Kuasai Soft Skill untuk Taklukkan Persaingan Mencari Pekerjaan

IPK supertinggi, tapi sulit mendapatkan pekerjaan. Sounds familiar? Mungkin itu disebabkan lulusan tidak memiliki soft skill yang dibutuhkan perusahaan.

MENGANTONGI nilai akademis tinggi dan IPK cum laude memang sudah menjadi keharusan setiap mahasiswa. Tapi, apakah capaian tersebut dapat menjamin para fresh graduate mudah diterima kerja? Belum tentu. Prestasi di bangku kuliah harus ditunjang dengan kemampuan soft skill yang mumpuni dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sayang, masih banyak mahasiswa yang kurang memperhatikan pentingnya memiliki soft skill yang kompeten. Mereka terlalu enjoy dengan aktivitas pembelajaran kuliah. "Memang hal itu tidak salah. Tapi, belajar mengembangkan diri dan ikut berorganisasi adalah investasi penting," tegas Lisyan Tamara Setioputro SSos MM, konsultan karir.

Kegiatan berorganisasi yang dilakukan dengan bertanggung jawab akan menjadi bekal berharga di kemudian hari. Terutama ketika melamar sebuah pekerjaan setelah lulus. Apalagi, saat ini orang bekerja tidak sesuai dengan jurusan ketika kuliah sudah menjadi hal biasa.

"Pernah ada suatu kasus, ada mahasiswa memiliki IPK 4,0, tapi sulit mencari kerja. Sebab, pada dasarnya dia tidak memiliki soft skill yang tentu menjadi pertimbangan perusahaan," ujar Lisyan.

Lisyan melanjutkan, situasi itu menjadi semakin berat ketika yang bersangkutan memiliki ego tinggi. "Kemampuan-kemampuan seperti kooperatif, tidak selfish, dan menentukan keputusan sudah menjadi pertimbangan utama perusahaan dalam mencari karyawan," ujar manajer Career Services Direktorat Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut.

Poin penting lain yang harus diperhatikan pelajar adalah mengenal diri sendiri dengan baik. Kalau mengenal diri dengan baik, seseorang dapat menentukan arah pengembangan ke depan. Termasuk mempelajari kelebihan dan kelemahannya. Hal tersebut mulai dilupakan pelajar saat ini yang termasuk dalam "generasi instan".

Timbulnya "generasi instan" memang tidak dapat disalahkan. Sebab, itu merupakan efek perkembangan teknologi dan budaya. Hal yang paling penting adalah membangun pola pikir kritis dan berwawasan luas. "Memiliki banyak referensi plus jaringan luas semakin mempermudah ruang gerak kita," tegas Lisyan. (kkn/c11/na)

Sumber: Jawa Pos, 11 Mei 2013