Turunkan Risiko Penyakit Akibat Kegemukan

Bukan hal mudah melepaskan diri dari obesitas (kegemukan). Banyak yang gagal mengatasinya karena kurang disiplin dan setengah hati. Dewi Rahmawati punya trik yang unik berupa modul pocket activity, sejenis kalender pemberantas obesitas.

KHAFIDLUL ULUM

---

DEWI Rahmawati menjajar kalender duduk di ruang pertemuan gedung International Village Ubaya. Sekilas bentuknya memang tidak berbeda dengan kalender biasa. Namun, jika diperhatikan, kalender itu berisi imbauan dan langkah-langkah mengurangi berat badan. Mahasiswi Farmasi Klinis Universitas Surabaya (Ubaya) itu yakin kalender ciptaannya mampu mencegah risiko penyakit akibat obesitas.

Ada pesan menarik dalam kalender Dewi. Selain hari dan tangggal, modul pocket activity itu berisi beragam aktivitas yang perlu dilakukan untuk mengurangi obesitas. "Kalender ini mudah sekali digunakan," jelas Dewi. Dalam kalender itu terdapat lembar kosong yang harus diisi penyandang obesitas. Di antaranya, kesanggupan olahraga, berapa lama berolahraga, serta kendala setiap berolahraga. "Itu dilakukan pada tiga bulan pertama," jelasnya.

Setelah bulan pertama, setiap bulan mereka diberi info tentang efektivitas olahraga yang dipilih. Misalnya, berenang. Jika dilakukan 20 menit dengan frekuensi 3 sampai 5 hari dalam seminggu, renang akan membakar banyak kalori. Begitu pula bila memilih olahraga lain. "Jika petunjuk diikuti, risiko terkena penyakit berbahaya bisa dikurangi," paparnya.

Dewi menyebut kalender ciptaannya merupakan hasil penelitian dalam tesisnya. Untuk membuat kalender, dirinya harus mewawancarai puluhan orang yang mengalami obesitas. Banyak yang enggan berterus terang, bahkan menolak. Dia membagikan kuesioner kepada 23 responden obesitas. Rata-rata mereka bekerja di kantor dan menghabiskan waktu dengan duduk. Kuesioner itu berisi pengertian obesitas, penyakit yang ditimbulkan akibat obesitas, dan petunjuk aktivitas yang bisa menurunkan obesitas. Selama tiga bulan, dia selalu mengontrol para responden. Tujuannya, mengetahui apakah mereka mengikuti petunjuk dalam modul. "Setiap tiga minggu saya pantau," katanya.

Mahasiswi kelahiran 9 Juni itu mengatakan, setelah tiga bulan, dia memberikan kuesioner lagi. Kali ini untuk mengukur perkembangan obesitas. Hasilnya, orang yang mau mengikuti petunjuk dalam modul kalender mengaku ada hasilnya. Dewi mengklaim, risiko terkena kardiovaskuler atau penyakit pembuluh darah akan turun sampai 3 persen. Jika sebelumnya 30 persen, setelah mengikuti petunjuk itu, risiko terkena kardiovaskuler turun menjadi 27 persen. "Itu untuk 10 tahun ke depan," katanya. Orang-orang kantoran yang obesitas pun bisa terhindar dari risiko penyakit terkait pembuluh darah, seperti stroke, serangan jantung, dan sebagainya. (c2/roz)

Sumber: Jawa Pos, 7 Februari 2013

 

Mahasiswa Ubaya Bikin Kalender Pemberantas Obesitas

SURABAYA -Di tengah gaya hidup yang kurang teratur, kini banyak masyarakat yang terkena penyakit kelebihan berat badan atau yang dikenal dengan obesitas. Hal itu, menginspirasi mahasiswa Program Pascasarjana Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dewi Rahmawati (26), membuat kalender
pemberantas obesitas. Dia memberinya nama ‘Modul Pocket Activity’.

Dalam karyanya tersebut, Dewi memberikan pernak-pernik yang beda dibandingkan tanggalan lainnya. Misalnya saja pada kalender tersebut, diberi himbauan dan langkah-langkah mengurangi berat badan. "Kalender ini, mengajak agar mereka yang terkena obesitas untuk mengatur pola hidupnya dengan lebih baik," tutur Dewi yang lahir di Samarinda, 9 Juni 1987 ini.

Kalender karya Dewi ini, juga diletakkan lembaran record aktifitas fisik perminggu. Juga ada kolom untuk jenis olahraga, waktu olahraga, hal-hal yang dilakukan sebelum dan sesudah olahraga. Dengan adanya record tersebut, maka bisa diketahui seperti apa kondisi seseorang tersebut untuk pola hidupnya.

Menurut Dewi, sebelum membuat penelitian ini, dia menyebarkan kuesioner kepada tujuh orang. Dari mereka, bisa diketahui, bahwa penyebab obesitas adalah gaya hidup, makanan instan, banyak duduk, dan kurang gerak. "Dari situ, saya akhirnya bikin kalender ini," terangnya.

Nah, dari situ, akhirnya dia menyebarkan kuesioner untuk 23 responden. Mereka ini diukur tentang tiga aspek, yakni pengetahuan tentang obesitas, perubahan perilaku, dan faktor resiko penyakit kardiovaskular (pembuluh darah). Seperti misalnya penyakit stroke dan jantung.

Para responden tersebut, adalah para karyawan Ubaya, baik dosen mau pun non dosen. Setelah diberi kuesioner, mereka diamati dan diukur menggunakan Framingham Scoring, yaitu hitungan untuk faktor resiko. "Tiap minggu saya pantau," terangnya.

Nah, setelah melewati tiga bulan, diketahui bahwa mereka yang sudah menjalankan himbauan seperti di kalendernya, ternyata mengalami penurunan faktor resiko rata-rata 2,10 persen terserang penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Sebagai contoh, ada responden yang sebelumnya diketahui memiliki resiko 30 persen terserang penyakit kardiovascular sebelum mengikuti kalender pemberantas obesitas. Nah, setelah mengikuti aturan yang tercantum dalam kalender tersebut, maka akan bisa turun menjadi 27,9 persen.

Naik atau pun turunnya faktor resiko itu sendiri, terang Dewi, dipengaruhi beberapa faktor. Antara lain tekanan darah, usia, jenis kelamin, berat badan,
apakah punya riwayat penyakit kencing manis ataukah tidak, dan apakah merokok atau tidak. "Kalau mau teratur pola hidupnya, nanti hasilnya akan jauh lebih bagus,” tukasnya sambil tersenyum. (nin)

Sumber: Radar Surabaya, 7 Februari 2013