oleh: Stephanus Eko Wahyudi, S.T. (Ubaya), MMM (Monash-Melbourne)

Teknologi televisi layar datar dengan teknologi LCD, LED, maupun Plasma saat ini sudah sedemikian populernya, dan sudah mengarah untuk menggantikan televisi tabung. Berbagai teknologi terbaru saat ini disematkan sebagai nilai tambah (added value), misalnya teknologi smart TV/internet TV yang bisa dimanfaatkan untuk mengakses fitur online, teknologi interaksi dengan magic pointer atau dengan pergerakan tanggan, tampilan 3D, dan berbagai teknologi lainnya.

Teknologi TV dengan Kacamata 3D nampaknya merupakan salah satu fitur menarik dari televisi layar datar yang perlu untuk dicermati. Mengapa demikian? Karena fitur ini saat ini boleh dikatakan telah cukup matang, sehingga bisa menghasilkan gambar yang cukup realistik dan tidak terlalu membuat mata penontonnya sakit atau pusing, meski bagi sebagian orang masih dirasa agak mengganggu untuk pemakaian jangka panjang.

3D TV Shoot-Out: Surprising Advantages of Passive 3D Glasses Revealed
Namun demikian, seperti halnya pada membeli LCD, LED, atau Plasma yang cukup membingungkan, pembelian Televisi dengan Teknologi Kaca Mata 3D pun ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Karena ternyata setidaknya ada 2 macam televisi 3D yang beredar di pasaran, yang disebut dengan Teknologi 3D Aktif (Active 3D) dan Teknologi 3D Pasif (Passive 3D). Kedua jenis ini memiliki ciri khasnya dan kelebihan masing-masing, namun produsen TV yang menggunakan masing-masing teknologi memberikan klaim bahwa teknologi yang mereka gunakan merupakan teknologi yang terbaik dalam menampilkan gambar 3D. Mari kita simak masing-masing teknologi dan apa yang membedakan keduanya.

Cara Kerja Televisi 3D

Mata manusia diciptakan untuk melihat semua yang ada di sekelilingnya dalam perpepsi 3D, hal ini disebabkan karena manusia memiliki 2 mata yang dipisahkan dalam sebuah jarak tertentu. Dengan penglihatan yang terdiri dari 2 mata tersebut, maka apa yang dilihat oleh masing-masing mata akan memiliki sedikit perbedaan sudut pandang, yang kemudian akan diolah otak untuk sebuah gambar yang memiliki illusi kedalaman atau dimensi ke 3D.

Televisi sendiri merupakan layar yang datar yang bersifat 2D, sehingga tidak dimungkinkan untuk menampilkan sebuah gambar dengan ilusi kedalaman dimensi ke 3 secara langsung. Saat ini telah banyak riset yang berupaya untuk menemukan solusinya, namun masih belum ada solusi yang benar-benar mampu untuk menampilkan gambar yang seolah 3D dalam layar datar tanpa bantuan kaca-mata. Pada perangkat game dengan layar yang kecil seperti Nintendo 3DS telah diperkenalkan fitur game 3D tanpa kacamata [1], namun teknologi ini hanya bisa diterapkan pada layar ukuran kecil, itupun kualitas illusinya masih kurang dapat dirasakan.

Penggunaan kaca mata 3D dimensi sendiri telah diperkenalkan sejak puluhan tahun lalu, namun nampaknya kurang dapat memuaskan para penggunanya, karena umumnya menggunakan kombinasi warna tertentu, seperti Biru dan Merah pada kacamata [4], sehingga warna gambar yang dihasilkan tidak realistis, kualitas gambar yang sangat menurun dari versi non-3D, serta cepat membuat lelah mata penontonnya.

Active vs PassiveNamun demikian, saat ini teknologi bioskop maupun televisi 3D telah sedemikian majunya, dimana telah dihasilkan sebuah gambar yang demikian tajam dan memiliki kualitas illusi 3D yang dapat diterima dan realistis. Sejak akhir 2009, produsen televisi terkenal seperti Sony, Sharp, Panasonic, Samsung, LG, dan lain-lain telah berlomba-lomba untuk memproduksi televisi dengan teknologi 3D dengan menggunakan kacamata. Sebagian besar produsen mengadopsi teknologi Active 3D  dan sebagian kecil lainnya memproduksi televisi dengan teknologi Passive 3D. Gambar di samping ini adalah gambar Active 3D Glasses (atas) dan Passive 3D Glasses (bawah) [Gb2].

Active 3D

Pada televisi dengan Active 3D, dibutuhkan kaca mata khusus yang membutuhkan teknologi elektronis yang dilengkapi dengan baterai, dimana kaca mata akan secara bergantian menutup tampilan pada mata kiri dan kanan dalam kecepatan tinggi, sehingga mata akan secara bergantian pula menonton tampilan televisi yang juga ditampilkan secara bergantian dengan frekuensi tertentu [2].

Passive 3D

Berbeda dengan teknologi Active 3D, pada teknologi Passive 3D tidak dibutuhkan kacamata dengan fungsi elektronis, karena kacamata sendiri terdiri dari Polarized Glass yang berbeda pada mata kiri dan kanan. Tampilan pada layar akan ditampilkan pula dalam bentuk garis-garis yang terpolarisasi, sehingga yang dapat dilihat pada mata kiri dan kanan akan berbeda [2].


Kelebihan dan Kekurangan

Dari deskripsi tersebut ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari masing-masing teknologi, selain tentunya kekurangan dari masing-masing, sebagai berikut:

 

Active 3D

Passive 3D

Keuntungan

Resolusi Gambar Full Frame

Sudut pandang lebih luas

Kaca mata ringan, murah, tidak perlu baterai

Kerugian

Kacamata relatif berat, mahal, membutuhkan baterai yang perlu sering di-charge atau diganti.

Kacamata bersifat proprietary, berbeda setiap merek

Gambar sedikit redup karena kacamata melakukan pemblokiran cahaya bergantian

Resolusi Gambar Half Frame

Sudut pandang lebih terbatas

 

Gambar Left: Passive 3D through glasses - Middle: Passive 3D without glasses - Right: Active 3D (Credit: Geoffrey Morrison/CNET

 

Kesimpulan:

Berdasarkan pengalaman penulis kacamata pada teknologi Active 3D relatif mahal, berkisar sekitar Rp. 500rb – 1jt per buahnya, sedangkan pada teknologi Pasive 3D dapat diperoleh dengan harga yang jauh lebih murah, antara Rp. 20rb-100rb per buahnya.  Karena kacamata Active 3D biasanya proprietary, artinya hanya eksklusif untuk salah satu vendor tertentu saja, maka kacamata tidak dapat digunakan pada TV merek lain meskipun sama-sama menggunakan teknologi Active.

Pertimbangan penggunaan baterai pada televisi dengan Active 3D bagi penulis merupakan salah satu kelemahan terbesar dari Active 3D mengingat pada beberapa kali kesempatan akan mencoba televisi tipe ini, kacamata sedang kehabisan daya baterai, dan karena harganya mahal, tidak tersedia cadangan kacamata lain yang siap digunakan, karena pada paket penjualan umumnya hanya disertakan 1-2 buah kacamata saja. Selain itu beratnya kacamata juga nampaknya agak mengganggu kenyamanan setelah penggunaan beberapa lama. Berbeda dengan kacamata Passive 3D yang harganya murah, bahkan biasanya produsen memberikan bonus gratis sebanyak 5-10 buah pada paket penjualannya.

Bagi penggemar gambar kualitas tinggi, mungkin kualitas tampilan pada teknologi Active 3D akan dirasakan lebih tajam, karena menggunakan resolusi penuh pada saat ditampilkan pada layar televisi. Pada film Full HD 1920 x 1080 misalnya, resolusi penuh akan dilihat pada Active 3D. [3] Sedangkan pada Passive 3D gambar yang akan ditampilkan menggunakan separuh resolusi dari keseluruhan format.

Teknologi televisi 3D mana yang terbaik? Semuanya terpulang kepada penonton. Yang paling tepat adalah membandingkan secara langsung demo produk yang sekarang tersedia di toko elektronik. Apabila pada saat mencoba Passive 3D gambar dirasa telah memenuhi ekspektasi maka, teknologi Passive 3D yang di Indonesia nampaknya hanya diadopsi oleh salah satu produsen televisi dari negeri ginseng merupakan pilihan bijak, mengingat harga kacamata yang murah, ringan, dan tidak membutuhkan baterai yang sangat merepotkan. Namun apabila kualitas gambar dirasa jauh dibanding Active 3D pada saat mencoba, nampaknya pilihan membeli Active 3D merupakan pilihan yang lebih tepat. Beruntung di pasaran banyak produsen yang menyediakan pilihan model dan tentunya dengan harga yang bisa dipilih sesuai dengan ukuran kantong.

 

Reference:

  1. http://www.pcworld.com/article/225218/active_3d_vs_passive_3d.html
  2. http://reviews.cnet.com/8301-33199_7-57437344-221/active-3d-vs-passive-3d-whats-better/
  3. http://asia.cnet.com/active-vs-passive-vs-glasses-free-3d-tvs-62219631.htm
  4. http://gcn.com/Articles/2013/03/06/Differences-active-passive-3D.aspx?Page=3

Image Credit:

  1. Tested.com
  2. VirginMedia
  3. Geoffrey Morrison/CNET

Thumbnail Image Credit: Engaget.com