Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri atas berbagai macam etnis (multikultural) namun tetap disatukan menjadi satu bangsa Indonesia. Namun semboyan ini belum sepenuhnya membumi bagi setiap etnis di Indonesia. Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa tidak semua etnis diperlakukan berdasarkan pandangan multikulturalisme yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Sugoto & Yusof, 2008).
    
Mengacu pada kasus konflik antar etnis yang salah satunya rendahnya pemahaman dan penanaman multikulturalisme maka perlu adanya pembelajaran ataupun pendidikan multikulturalisme. Pembelajaran multikulturalisme yang baik diharapkan terdapat interaksi ataupun sentuhan secara langsung antar etnis ataupun antar kultur. Terdapat beberapa cara pembelajaran multikulturalisme yang memungkinkan terjadinya interaksi antar kultur, salah satunya adalah live in.

Live in merupakan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda (status sosial ekonomi budaya) dalam kehidupan nyata. Terdapat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa live in merupakan kegiatan yang tidak bermanfaat ataupun meragukan manfaatnya. Live in pada dasarnya memiliki manfaat sesuai dengan tujuan dilakukannya kegiatan. Misalnya saja meningkatkan kepekaan sosial, meningkatkan hardiness, resiliensi, membentuk karakter positif, ataupun sarana pendidikan multikulturalisme. Tulisan ini akan menggambarkan manfaat kegiatan live in sebagai bentuk pendidikan multikulturalisme.

Sebagai contoh pelaksanaan live in yang dilakukan Fakultas Psikologi di Asram Gandi Karangasem Bali pada tahun 2010 yang dirangkum dalam penelitian Yuwanto (2011). Hasil penelitian menunjukkan live-in sebagai salah satu sarana pembelajaran multikulturalisme cukup efektif mengkonfirmasi stereotipe yang dimiliki individu, dan dapat membentuk stereotipe yang lebih positif, bila individu memiliki kemauan berinteraksi dengan etnis lain dalam aktivitas live-in. Hasil penelitian secara ringkas dapat dilihat pada gambar berikut.



Contoh lain adalah kegiatan live in Fakultas Psikologi Universitas Surabaya tahun 2011 dan 2012 di pengungsian Merapi yang seluruh warganya beretnis Jawa. Hasil kegiatan live in adalah adanya kesadaran tentang pentingnya pembelajaran multikultural yang tidak hanya sekadar bersentuhan ataupun tinggal di tempat etnis yang berbeda (Yuwanto, 2011 ; Yuwanto, Budiman, & Arif, 2011; Yuwanto & Batuadji, 2012). Dengan adanya bersentuhan dan tinggal di tempat etnis berbeda memungkinkan mengenal etnis dan budaya lain, dan memungkinkan interaksi timbal balik yang saling menguntungkan (interaksi mutualisme). Mahasiswa dapat mengenal budaya Jawa, pengungsi juga dapat mengenal budaya Tionghoa. Saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup pengungsi dan kebutuhan hidup mahasiswa selama live in. Manfaat seperti ini tidak akan didapatkan bila tidak adanya kemauan dan keberanian untuk mengikuti live in.

Kegiatan live in tetap terdapat kekurangannya, namun berdasarkan pada keuntungan yang didapatkan dari kegiatan live in maka sangat disayangkan bila tidak terdapat kegiatan live in. Bukankah lebih baik kegiatan yang menguntungkan diperbaiki kekurangan-kekurangannya dibandingkan ditiadakan sama sekali. Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi. Semoga pendidikan multikulturalisme mampu mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika.


Pustaka Acuan

  • Sugoto, S., & Yusof, A.M. (2008). Racial socialization in two cultures. Anima Indonesian Psychological Journal, 23(3), 214-221.
  • Yuwanto, L. (2011). Live-in sebagai sarana pembelajaran multikulturalisme. Hasil penelitian disampaikan pada Seminar Nasional Psikologi Multikulturalisme : Upaya Membumikan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Salah Satu Pilar Kehidupan Berbangsa dan Negara, Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, 9 Mei 2011.
  • Yuwanto, L., Budiman, A. F., & Arif, K. (2011). Exploring my self camp, peer group camp, self help camp, and live in as a method of learning the character of toughness. Hasil penelitian disampaikan pada Seminar Internasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta, September 2011.
  • Yuwanto, L. (2012). Kebersamaan dalam menerapkan psychology for disaster bagi pengungsi Merapi. Surabaya : Putra Media Nusantara.
  • Yuwanto, L., & Batuadji, K. (2012). Untaian bunga-bunga kesadaran : Refleksi kami di Merapi. Jakarta : Dwiputra Pustaka Jaya.