Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tulisan ini menggambarkan tentang tahapan bencana dan peran Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dalam setiap tahapan bencana di Merapi. Tahapan bencana terdiri atas fase heroic, honeymoon, disillusionment, dan reconstruksion.

Fase heroic merupakan fase awal saat dan setelah bencana. Cirinya berita bencana tersebar kemana-mana melalui berbagai media sehingga menimbulkan simpati dari berbagai pihak. Terdapat banyak bantuan silih berganti kepada korban bencana. Fase ini dapat menimbulkan ketergantungan bila dalam memberikan bantuan tidak disertai dengan kebijakan yang tepat. Fakultas Psikologi saat bencana telah mengirimkan relawan dan bantuan fisik untuk pengungsi Merapi. Relawan membantu penanganan psikologis di beberapa pusat pengungsian di Sleman dan sekitar lereng gunung Merapi.

Fase honeymoon dicirikan dengan mulai timbulnya keyakinan para korban bencana akan kembali ke kondisi yang lebih baik, tidak terlepas dari banyaknya bantuan yang diterima dari berbagai pihak. Pada fase ini Fakultas Psikologi tetap memberikan bantuan utamanya fisik, namun fokus utama pada fase ini adalah melakukan analisis kebutuhan psikologis utama pengungsi yang dalam jangka panjang yang dapat dilakukan pada fase disillusionment.

Fase disillusionment muncul setelah fase honeymoon. Fase ini dicirikan dengan mulai munculnya perasaan putus asa bahwa tidak mudah untuk kembali ke kondisi yang lebih baik. Hal ini biasanya disertai dengan mulai berkurangnya bantuan ataupun perhatian dari pihak-pihak yang selama ini bergantian memberikan bantuan. Fase disillusionment merupakan fase kritis yang menentukan apakah korban bencana mampu bangkit atau tidak dari kondisi keterpurukan. Pada fase ini merupakan fokus Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan mahasiswa sebagai berikut. Kegiatan live in sekaligus pengabdian masyarakat, dengan rincian kegiatan kesehatan psikologis bagi lansia, pengolahan bank sampah, kewirausahaan olahan makanan, dan pemberdayaan ibu-ibu pendidik anak usia dini.

Pertimbangan yang digunakan dasar diadakannya kegiatan-kegiatan pada fase disillusionment sebagai berikut. Kesehatan lansia karena lansia rentan mengalami penurunan kesehatan psikologis didukung tanpa adanya kegiatan yang dirancang dari pihak luar. Pemberdayaan ibu-ibu pendidik usia dini karena sudah mulai banyak kader PAUD yang tidak bersemangat menjalankan tugasnya. Kewirausahaan olahan makanan karena tidak banyak pengungsi yang terlibat dalam program yang telah dirancang pihak luar. Sehingga beberapa dari mereka tidak dapat berkarya dalam program tersebut.

Fase reconstruction adalah fase berusaha mencapai kondisi yang lebih baik setelah mengalami bencana. Tidak diduga ternyata Fakultas Psikologi Universitas Surabaya masih terlibat dalam fase rekonstruksi pengungsi Merapi. Beberapa peran yang diambil Fakultas Psikologi Univeritas Surabaya bentuknya program green economy bagi lansia, tujuannya untuk memberikan kegiatan yang masih memungkinkan bagi lansia dengan fungsi kerja dan ekonomi. Program kreativitas guru TK dan penelitian tindakan kelas bagi guru-guru TK. Kunjungan ke beberapa pengungsi yang memiliki kedekatan emosi dengan mahasiswa sebagai bentuk mempertahankan relasi sosial selama di pengungsian dan setelah tinggal di hunian tetap. Hal ini menunjukkan bahwa relasi sosial bagi masyarakat Merapi merupakan kebutuhan sehingga harus dipehuni.

Itulah sedikit gambaran peran Fakultas Psikologi Universitas Surabaya dalam karya kami di Merapi 2010 – 2012. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut dapat membaca buku-buku yang telah diterbitkan terkait dengan program psychology for disaster di Laboratorium Psikologi Umum.