Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya


    Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong merupakan tokoh pewayangan yang sangat terkenal meskipun generasi muda sekarang tidak banyak mengenalnya. Hal ini menunjukkan lunturnya budaya bangsa di tengah kemajuan jaman dan globalisasi. Tokoh-tokoh punakawan memiliki karakter tersendiri yang seharusnya dapat menjadi model belajar karakter bagi dalam menjalani kehidupan kita bila memahaminya. Punakawan memiliki bentuk masing-masing yang menggambarkan karakter-karakter. Berikut akan diuraikan secara ringkas karakter Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong 

Semar Badranaya. Semar bentuknya samar-samar dan mukanya pucat. Karakter yang disimbolkan oleh wujud semar adalah kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika mengalami kebahagiaan (Achmad, 2012).  Kesederhanaan sangat sulit ditemui di masa sekarang, banyak orang hidup tujuan utamanya adalah material, makin banyak material yang didapatkan atau makin kaya maka makin merasa hidupnya sukses dan bahagia. Namun ukuran kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh materi, kesederhanaan dalam menjalani hidup lebih diutamakan. Dengan kesederhanaan kita bisa merasakan berbagi dengan orang lain, kita bisa merasakan nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, dengan kesederhanaan mampu membuat kita tidak hidup selalu dengan tuntutan harus lebih dari yang sekarang didapatkan secara materi dan tidak berat meninggalkan materi dunia ketika tiba waktunya meninggal (Yuwanto, 2012).

Semar dalam pewayangan menjadi rujukan para kesatria untuk meminta nasihat dan menjadi tokoh yang dihormati. Namun karakter tetap rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi sesame dapat menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki.
Tokoh semar mengingatkan bahwa ketika kita mengalami kesedihan kita akan terus bersedih secara mendalam, maka kita tidak akan pernah berpikiran bahwa kesedihan akan berakhir, tidak ada usaha untuk mengatasi kesedihan, sehingga akhirnya terlambat untuk menyadari bahwa kita sudah terlalu lama menangisi kesedihan tanpa melakukan apa-apa. Saat mengalami kebahagiaan, kita sangat bahagia sehingga tidak waspada atau lupa bahwa suatu saat kita akan mengalami kesusahan, dan kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kesesuahan sehingga saat mengalami kesusahan kita merasa bahwa menjadi orang paling susah, dan mengalami nasib buruk.

Nala Gareng. Nala gareng merupakan tokoh punakawan yang memiliki ketidaklengkapan bagian tubuh. Nala gareng mengalami cacat kaki, cacat tangan, dan mata. Karakter yang disimbolkan adalah cacat kaki menggambarkan manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Tangan yang cacat menggambarkan manusia bisa berusaha tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Mata yang cacat menunjukkan manusia harus memahami realitas kehidupan (Achmad, 2012). Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Nala Gareng menyimbolkan karakter hidup prihatin dalam menjalani kehidupan baik senang maupun duka, dan selalu berhati-hati dalam berperilaku.


Petruk Kanthong Bolong. Tokoh petruk digambarkan dengan bentuk panjang yang menyimbolkan pemikiran harus panjang. Nama Kanthong Bolong menunjukkan kesabaran yang dalam (Achmad, 2012). Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Konsep psikologi kognitif menjelaskan bahwa saat mengalami masalah, manusia akan membuat suatu keputusan untuk penyelesaian masalah. Saat berpikir panjang digambarkan dengan membuat berbagai alternatif penyelesaian masalah dengan perhitungan kelebihan dan kekurangannya. Dengan adanya alternatif penyelesaian masalah manusia bisa mengambil keputusan yang tepat (Yuwanto, 2012). Sabar, menggambarkan penerimaan terhadap apa yang sudah digariskan Tuhan setelah manusia berusaha, bukan hanya sekadar pasrah menerima tanpa usaha. Istilah jawa nerimo ing pandum sering diartikan bahwa pasrah menerima tanpa usaha. Arti ini keliru, nerimo ing pandum artinya menerima apapun hasil dari usaha yang telah dilakukan karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi Tuhan yang menentukan akhirnya.

Bagong. Bentuknya mirip semar tetapi hitam gelap sehingga disebut sebagai bayangan semar. Karakter yang disimbolkan dari bentuk bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia (Achmad, 2012). Makna mendalam dari karakter Bagong adalah tidak terlalu kagum dengan kehidupan dunia. Saat ini kehidupan manusia termasuk di Indonesia mulai bergeser dari kehidupan kolektivisme dan relationisme menjadi individualism yang sangat khas materialismenya. Kehidupan dunia dengan harta dan jabatan menjadi target utama yang harus dicapai. Karakter Bagong dapat menjadi model bahwa kehidupan dunia tidak abadi. Manusia harus selalu belajar dari bayangannya yang memiliki makna manusia harus selalu introspeksi diri dengan kekurangan atau kejelekan diri sendiri untuk memperbaiki perilaku yang lebih baik. Bukannya selalu melihat kejelekan orang lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri sehingga diri menjadi sombong.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Referensi :
Achmad, S. W. (2012). Wisdom van Java : Mendedah nilai-nilai kearifan Jawa. Bantul,  Yogyakarta :  IN AzNa Books.
Yuwanto, L. (2012). Pengungsi Merapi dan Etika Hidup Orang Jawa. Dalam Untaian bunga-bunga kesadaran dan butir-butir mutiara pencerahan : Kumpulan Catatan Reflektif Kami di Merapi (L. Yuwanto & K. Batuadji, Eds.) (pp 74-81). Jakarta : Dwiputra Pustaka Jaya.