Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

    Tulisan ini hasil proses pembelajaran penulis selama program Program CEC (Cross-Cultural & Entrepreneur Collaboration) di Hangzhao China 3 -16 May 2012. Cina merupakan negara new buble super power dunia selain India. Bila pembaca diminta membayangkan tentang Cina mungkin beberapa akan menyebut negara pekerja keras, gedung-gedung tinggi, kepadatan penduduk, kemajuan teknologi, produk-produk peralatan kehidupan, dan mungkin pasar peniru terbesar di dunia.
     Cina merupakan negara yang tidak terlalu bersahabat bagi pemeluk agama Islam  karena sulitnya mencari makanan yang tidak mengandung babi. Kesulitan tersebut juga penulis alami. Keterbatasan modal dan keterbatasan makanan halal mendorong penulis mengolah makanan yang ada menjadi makanan sehat untuk dimakan. Penulis juga harus tetap survive dengan keterbatasan. Sebagai contoh penulis membuat menu makanan mie instant tanpa bumbu dicampur dengan ayam. Mie instan yang rasanya hambar karena tidak berbumbu menjadi sedap karena tercampur dengan ayam goreng. Penulis juga pernah mencampur roti tawar dengan kerupuk udang sehingga menjadi pengganti nasi dan lauk. Roti tawar juga dapat dicampur dengan mi instant tanpa bumbu. Selain itu mie instant tanpa bumbu dapat terasa nikmat ketika dicampur dengan susu panas.
     Keterbatasan yang penulis alami mendorong penulis meninggalkan cara-cara umum yang penulis ketahui dalam mengolah makanan. Penulis melakukan kombinasi makanan dengan menggunakan bahan yang ada Cara-cara umum tersebut dikenal dengan mental set. Mental set merupakan kecenderungan individu untuk menggunakan cara-cara yang sama ataupun cara yang umum dalam melakukan sesuatu.    
     Kembali ke negara cina, Apakah Cina termasuk negara yang innovative untuk produ-produknya?jawabnya iya. Meskipun produk-produk Cina banyak yang meniru produk asing dan kemudian dilabeli merk Cina. Namun cina mampu melakukan inovasi dalam cara produksi, jenis produk, fungsi produk, dan biaya produksi. Hal ini mengacu pada definisi innovative yaitu cara atau proses dalam melakukan atau menghasilkan sesuatu. cina tidak sekadar melakukan copycat, tetapi melakukan innovative dengan dasar 5c. 5c tersebut copy, compettion, combination, constraint (kekurangan),China.
     Negara Cina tidak malu melakukan copy terhadap produk, service,ataupun proses dari negara lain yang terbukti memiliki keuntungan. Namun mereka tidak sekadar mengcopy mereka melakukan kombinasi produk dengan dasar analisis kekurangan produk yang mereka  tiru. Keterbatasan tersebut antara lain keterbatasan fitur atau fungsi produk yang dicontoh. Dengan copy, combination, dan constraint mereka mampu menghasilkan produk yang berbeda dengan produk yang mereka copy terutama dalam fitur dan harga dan mampu bersaing. karakteristik negara cina yang ingin mandiri mampu menghasilkan sesuatu seperti negara lain dan survive dalam percaturan ekonomi dunia mendorong terus terjadinya proses copy, combination, constraint, dan competition.