Oleh: Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Salah satu ciri masyarakat urban adalah kemajemukan dalam berbagai area kehidupan misalnya pekerjaan, etnis, latar belakang budaya, nilai kehidupan, dan keyakinan. Berbagai masalah seringkali muncul karena adanya konflik yang disebabkan oleh perbedaan mulai di tingkat kantor sampai tingkat kehidupan bertetangga. Kehidupan bermasyarakat yang sejahtera, bahagia, merupakan salah satu tujuan dalam kehidupan masyarakat urban. Kondisi itu dapat terwujud apabila masyarakatnya tidak saling mengutamakan kepentingan sendiri atau golongan dan memperdulikan kepentingan yang lain. Kata toleransi seringkali diajukan namun, toleransi yang seperti apa?

Berikut adalah beberapa hasil khotbah Hari Raya Idul Fitri 1432 H yang sempat penulis simak untuk mengkritisi kehidupan masyarakat urban di Surabaya :

1.   Ciri masyarakat urban terutama di Surabaya adalah keterbatasan lahan. Banyak penduduk Surabaya yang rumahnya tidak memiliki halaman. Kondisi ini secara riel seperti berikut, tidak punya lahan tapi memelihara ayam, jadi ayam tersebut kalau buang kotoran di rumah tetangga sehingga tetangga juga merasakan harus membersihkan. Namun kalau ayam tersebut bertelur atau dipotong, tetangga apakah ”kecipratan” rejeki itu?. Cek saja kondisi yang ada di sekitar kita bagaimana?. Tetangga yang harus toleransi, jadi dibiarkan saja daripada ditegur malah jadi konflik. Ini yang disebut dengan toleransi?

2.    Tidak punya lahan atau garasi tetapi memiliki mobil. Saat mobil distarter untuk dipanasi tetangga juga terganggu dengan asap dan suaranya. Saat mobil diparkir, mengambil lahan tetangga juga sehingga untuk keluar atau masuk rumah tetangga juga mengalami kesulitan. Tetangga yang harus toleransi, jadi dibiarkan saja daripada ditegur malah jadi konflik. Ini yang disebut dengan toleransi?

3.   Jarak antar rumah yang secara fisik sangat sempit seperti model perumahan sekarang atau di perkampungan menyebabkan jarak fisik juga sangat dekat antar tetangga. Simak yang banyak terjadi dengan kondisi ini adalah kalau membunyikan musik sangat keras sampai terpaksa tetangga harus mendengar. Tetangga yang harus toleransi, jadi dibiarkan saja daripada ditegur malah jadi konflik. Ini yang disebut dengan toleransi?

4.   Malam Ramadhan dan Idul Fitri yang seharusnya khidmat untuk beribadah dan merefleksi diri jadi riuh rendah dengan suara petasan. Berapa banyak orang yang sakit jantung atau mudah kaget harus menahan nafas, bayi yang harus menangis, orang beribadah tidak bisa khusyuk, dan banyak orang harus terbangun karena suara petasan di tengah tidurnya?. Tetangga yang harus toleransi, jadi dibiarkan saja daripada ditegur malah jadi konflik. Ini yang disebut dengan toleransi?

5.   Acara perkawinan yang menggunakan lahan jalan untuk tenda resepsi. Tujuannya untuk menghemat dan tidak punya lahan jadi memanfaatkan fasilitas umum. Berapa banyak orang yang terganggu karena harus mencari jalan lain yang bisa dilewati, berapa banyak tetangga yang harus susah keluar masuk rumahnya sendiri karena depan rumahnya ditutup untuk acara resepsi, dan suara musik dari resepsi tersebut?. Tetangga yang harus toleransi, jadi dibiarkan saja daripada ditegur malah jadi konflik. Ini yang disebut dengan toleransi?.

Beberapa hal yang telah disebutkan (poin 1-5) bukannya tidak boleh dilakukan, boleh dilakukan dengan bijak, asal tidak merugikan orang lain, harus ada toleransi juga dari pelaku terutama terhadap tetangga. Sudah saatnya konsep toleransi yang sepihak harus dirubah, untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang, dan kebutuhan harga diri, serta nilai kebersamaan dalam masyarakat urban. Friksi-friksi kecil karena perbedaan, tidak saling menghormati kepentingan yang lain karena mengutamakan kepentingan sendiri, namun terlalu ditolerasi sepihak akan dapat menyebabkan bibit-bibit konflik dalam kehidupan masyarakat urban. Mari kita renungkan parsel Idul Fitri ini.