Oleh: Hazrul Iswadi


Hasil literasi PISA 2015 baru saja dirilis 6 Desember 2016 (lihat gambar snapsot di bawah). PISA adalah singkatan dari Programme for International Students Assessment. Program ini digagas oleh the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). OECD melakukan evaluasi berupa tes dan kuisoner pada beberapa negara yag ditujukan pada siswa-siswi yang berumur 15 tahun atau kalau di Indonesia sekitar kelas IX atau X. PISA dilakukan tiap tiga tahun sekali dan dimulai dari tahun 2000. Materi yang dievaluasi adalah sains, membaca, dan matematika. Jadi tes dan survey PISA berikutnya adalah di tahun 2018 dengan hasil tes dan surveynya akan dirilis pada akhir tahun 2019.
    
Hasil tes dan survey PISA, yang pada tahun 2015 melibatkan 540.000 siswa di 70 negara, dianalisa dengan hati-hati dan lengkap sehingga survey dan tes tahun berjalan baru bisa didapatkan pada akhir tahun berikutnya. Jadi hasil literasi PISA 2015 baru bisa dirilis pada bulan Desember 2016. Pada web OECD di alamat https://www.oecd.org/pisa/  dapat dilihat data yang berlimpah yang berkaitan dengan hasil tes dan survey PISA. Pada tes dan survey PISA 2015 diperoleh data bahwa Singapura adalah negara yang menduduki peringkat 1 untuk ketiga materi sains, membaca, dan matematika.
    
Bagaimana dengan performa siswa-siswi Indonesia dari hasil tes dan survey PISA 2015? Dari hasil tes dan evaluasi PISA 2015 performa siswa-siswi Indonesia masih tergolong rendah. Berturut-turut rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara yang dievaluasi. Peringkat dan rata-rata skor Indonesia tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil tes dan survey PISA terdahulu pada tahun 2012 yang juga berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah.
    
Melihat dari indikator utama berupa rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia di bidang sains, matematika, dan sains memang mengkhawatirkan. Apalagi kalau yang dilihat adalah peringkat dibandingkan dengan negara lain. Tersirat kekhawatiran kita tentang kemampuan daya saing kita pada masa yang akan datang. Jangankan dibandingkan dengan Singapura yang menjuarai semua aspek dan indikator penilaian, dengan sesama negara Asia Tenggara yang lainpun kita tertinggal. Tercatat Vietnam yang jauh di peringkat atas dan dan Thailand yang juga unggul di atas Indonesia. Pada sisi lain, peringkat Indonesia sebenarnya naik dari hasil tes dan survey PISA 2012. Contohnya untuk bidang matematika dari pada PISA 2012 berada di peringkat 64 dari 65 negara yang dievaluasi.
    
Tapi OECD tidak hanya melulu melakukan tes yang mnguji kemampuan ketiga bidang di atas, tapi mereka juga mengukur bermacam-macam indikator dari mensurvey banyak hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk pendidikan. OECD tidak hanya melakukan tes sains, membaca, dan matematika kepada siswa, tapi mereka juga menyebarkan kuisioner kepada siswa, kepala sekolah dan orang tua untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya dan gambaran utuh tentang pendidikan di negara yang dievaluasi. Salah satu hal yang menarik adalah indeks kesenangan belajar sains (index of enjoyment of learning science) Indonesia yang cukup tinggi yaitu 0,65, lebih tinggi dari pada indeks yang didapatkan oleh negara-negara yang memperoleh skor tinggi seperti Singapura sebesar 0,59 atau bahkan Jepang -0,33.
    
Data tentang tingkat kesenangan belajar sains pada PISA 2015 sendiri juga menarik untuk diteliti. Banyak negara yang indeksnya rendah memiliki peringkat performa sains yang bagus. Padahal secara logis bisa disimpulkan semakin senang siswa belajar sains maka semakin tinggi kemampuan siswa. Demikian juga dengan kesetaraan gender untuk akses pendidikan sains dan matematika di Indoneia juga hasil PISA 2015 menunjukkan indeks yang tinggi. Beberapa idikator positif ini dapat menjadi pendorong untuk pencapaian penguasaan materi sains dan matematika.
    
Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa bahwa ruang untuk meningkatkan performa siswa-siswi Indonesia merupakan tantangan bagi para pendidik, manajemen sekolah, orang tua, siswa, pemerintah, dan siapa saja yang peduli dengan pendidikan Indonesia, khususnya sains dan matematika, untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan Indonesia supaya kita tidak jauh tertinggal dalam hal daya saing bangsa dari negara-negara lain.