Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Beberapa bulan terakhir, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sedang diuji. Berbagai aktivitas dan isu yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa silih berganti muncul dan yang paling mengerikan adalah pesan-pesan yang tersampaikan melalui media sosial. Pesan-pesan yang sangat cepat beredar melalui jejaring sosial seakan menjadi kompor dan sumbu penyulut emosi. Ironisnya kondisi tersebut juga terjadi pada saat bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda yang merupakan simbol persatuan dan kesatuan bangsa dengan keberagamannya. Terdapat beberapa isu lama yang dapat dikatakan laten bernuansa prasangka terkait dengan racism yang di masa lalu telah membuat diskriminasi dalam berbagai bentuk dan jarak sosial yang makin tinggi. Mari kita belajar dari pengalaman pahit bangsa ini di masa lalu yang seringkali membuat tercerai berai dan terpuruk karena prasangka dan perilaku diskriminasi. Jangan sampai terulang kembali, generasi yang di masa lalu merasakan dampak dari tercerai berainya bangsa dapat mencegah dengan mengingat betapa tidak nyamannya kondisi tersebut. Generasi yang belum pernah merasakan dampak dari bangsa yang tercerai berai jangan pernah mencoba melakukannya. Terutama bagi semua generasi yang tidak ingin bangsa ini tercerai berai mari mewujudkan hidup yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika dengan mengurangi prasangka, diskriminasi, dan jarak sosial.

Prasangka memang tidak bisa dihindari, kalau mau dikatakan hanya etnis atau suku tertentu yang memiliki prasangka tentu pernyataan tersebut keliru. Semua etnis atau suku pasti pernah melakukan prasangka. Prasangka merupakan penilaian yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok lain. Prasangka berkaitan dengan kelompok dalam dan kelompok luar. Penilaian terhadap kelompok sendiri (kelompok dalam) cenderung lebih positif dan menilai kelompok lain (kelompok luar) cenderung negatif. Prasangka terdapat dalam berbagai bentuk yaitu ras, suku, agama, jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan minat seksual. Mengapa dikatakan setiap etnis atau suku memiliki prasangka karena dengan adanya perbedaan dengan etnis dan suku lain maka akan menyebabkan perasaan superioritas.

Dengan adanya prasangka maka munculah diskriminasi yaitu perilaku-perilaku negatif yang didasarkan prasangka terhadap etnis atau suku lain. Diskriminasi ini menimbulkan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi yang mengalami sehingga memunculkan emosi negatif dan memori yang sangat kuat. Dampaknya jarak sosial antar etnis dan suku menjadi makin besar. Jarak sosial merupakan kedekatan secara fisik dan sosial antar kelompok dalam hal ini bisa berupa jarak sosial antar etnis, suku, atau kelompok-kelompok lainnya. Terdapat beragam kategori jarak sosial, salah satunya dapat diukur dengan Skala Bogardus yang mengindikasikan jarak sosial dalam beberapa tingkat yaitu kebersediaan menerima anggota kelompok lain sebagai teman sekolah, kebersediaan menerima anggota kelompok lain sebagai teman kantor, menerima anggota kelompok lain sebagai tetangga, menerima anggota kelompok lain sebagai saudara, dan menerima anggota kelompok lain sebagai pasangan. Terlihat bahwa makin mengarah pada penerimaan anggota kelompok lain sebagai pasangan menunjukkan jarak sosial yang makin dekat (dalam). Kita perlu merenungkan kita selalu menyatakan kita satu tanah air yaitu Indonesia, kita hidup dalam Bhinneka Tunggal Ika, tetapi apakah kita sudah mampu menerima kelompok lain yang sama-sama hidup di Indonesia sampai jarak sosial yang paling dekat.

Kalau memang tidak bisa atau belum bisa menerima kelompok lain dengan jarak sosial yang paling dekat, terimalah kelompok lain tersebut dengan jarak sosial yang terdekat yang kita mampu. Memang tidak mudah, selalu dengan pertanyaan berapa lama bangsa ini diperlakukan Belanda dengan politik pecah belahnya. Pertanyaan tersebut dari masa lalu hingga sekarang masih saja muncul ketika ditanya mengapa prasangka, diskriminasi masih saja terjadi sehingga jarak sosial juga tetap tinggi yang jawabannya sudah jelas yaitu lamanya selama Belanda menjajah Indonesia. Kenapa kita tidak bertanya, sampai kapan kita akan melakukan prasangka dan diskriminasi sedangkan Belanda sudah tidak menjajah Indonesia lagi? Kenapa kita tidak bertanya, kenapa kita tidak mencoba menerima kelompok lain sampai jarak sosial yang paling dekat?.

Janganlah selalu mencari perbedaan antar kelompok karena pada akhirnya akan memunculkan superioritas sebuah kelompok dibandingkan kelompok lain. Kenapa tidak mencari persamaan-persamaan yang positif sehingga dapat mengurangi prasangka dan perilaku diskriminasi. Jarak sosial menggambarkan kedekatan antar kelompok merupakan bukti tentang prasangka dan diskriminasi. Makin jauh jarak sosialnya maka akan membuktikan tingginya prasangka dan diskriminasi. Dengan demikian makin mudah bangsa Indonesia yang dibangun atas dasar kekayaan keberagamannya dicerai berai dengan kekayaan keberagamannya. Jangan sampai kelak kita semua menyesali bangsa Indonesia terpecah belah karena kekayaan keberagamannya. Bangsa Indonesia dapat menjadi besar karena keberagamannya yang sejak dulu kala sudah merupakan simbol globalisasi Indonesia. Mari saling menjaga diri, meski berbeda, utamakan mewujudkan kedamaian Indonesia.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/227/Bukti-Ber-Bhinneka-Tunggal-Ika---Kurangi-Prasangka--Diskriminasi--Dan-Jarak-Sosial.html