Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Jawa Timur dikepung bencana, demikian headlinesebuah media tentang kejadian bencana alam di awal musim penghujan Oktober 2016. Hal ini tidak terlepas dari banyak bencana yang terjadi di Jawa Timur memasuki musim penghujan yang dicirikan dengan adanya bencana hidrometeorologi. Cuaca di Jawa Timur di peralihan bulan September dan Oktober 2016 tergolong cukup ekstrim. Dari cuaca panas, mendung, kemudian hujan deras selama beberapa hari secara terus menerus. Cuaca ekstrim ini juga disebabkan dampak dari Lanina sehingga curah hujan juga semakin tinggi. Dampak yang dapat dirasakan antara lain bencana alam banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung terjadi di beberapa daerah Jawa Timur yaitu Madiun, Trenggalek, Sampang, Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo. Bencana alam tersebut mengakibatkan kerusakan secara infrastruktur seperti jalan, bangunan, fasilitas umum, dan non fisik seperti terganggunya kehidupan masyarakat yang terkena bencana. Dengan demikian dapat disimpulkan dengan kejadian bencana dan dampak yang ditimbulkannya Jawa Timur memiliki risiko tinggi bencana alam di musim hujan. Tulisan berikut akan menggambarkan tentang kajian risiko bencana.

WHO (2002) menyebutkan tiga komponen dalam bencana, yaitu hazards, vulnerability, dan risk. Riskadalah kemungkinan mengalami dampak merusak atau negatif dari bencana yang merupakan kombinasi dari hazardsdan vulnerability. Dapat digambarkan bahwa riskmerupakan fungsi dari hazardsdan vulnerability. Hazards(bahaya/ancaman) adalah potensi mengalami bencana yang dapat berdampak pada korban jiwa, cedera, atau kehilangan/kerusakan materi. Potensi bencana dikarakteristikkan lokasi, intensitas, frekuensi, dan kemungkinan yang dapat terjadi. Vulnerabilitymerupakan kondisi kerentanan yang disebabkan faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkaitan dengan efek hazards. Vulnerabilitymenggambarkan kekurangmampuan individu atau masyarakat untuk mencegah, menghadapi, atau menanggulangi dampak bahaya tertentu.

Mengacu pada banyaknya bencana yang terjadi di Jawa Timur terakhir ini dari tinjauan hazardsnya memang tergolong tinggi dengan curah hujan yang tinggi. Hazards yang tinggi ini juga disertai dengan vulnerability yang tinggi sebagai contoh berkurangnya tanah untuk resapan air hujan, pendangkalan sungai, baralihnya fungsi sungai menjadi lahan pemukiman. Selain itu juga tidak adanya pengganti untuk fungsi-fungsi resapan air hujan dan penampung air hujan. Hal ini tentunya juga mengarah pada kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengurangi risiko bencana dan menyeimbangkan hazards dengan velnerability. Kebijakan-kebijakan yang dibuat bersifat reaktif, artinya saat di musim hujan kemudian terjadi bencana seperti banjir dan tanah longsor barulah dibuat kebijakan untuk membangun waduk, dam, atau sejenisnya. Mengacu pada sejarah terjadinya bencana banjir dan longsor, beberapa daerah di Jawa Timur yang saat ini mengalami bencana sebelumnya sudah menjadi langganan bencana serupa. Inilah yang kemudian disebut sebagai pengurangan vulnerabilityyang bersifat reaktif bukan antisipatif. Secara ideal arah pengurangan vulnerabilityadalah antisipatif karena dengan pendekatan demikian risiko bencana bisa dikurangi dengan hazards yang tinggi.