Oleh: Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri atas berbagai macam etnis (multikultural) namun tetap disatukan menjadi satu bangsa Indonesia. Namun semboyan ini belum sepenuhnya membumi bagi setiap etnis di Indonesia. Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa tidak semua etnis diperlakukan berdasarkan pandangan multikulturalisme yang terkandung dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai contoh pandangan suatu etnis yang memandang bahwa etnisnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan etnis lain di Indonesia derajat kebudayaannya. Selain itu masih terdapat beberapa pandangan atau keyakinan yang dimiliki oleh individu terkait dengan sifat-sifat individu dari etnis lain yang belum tentu benar yang dikenal dengan stereotipe. Pada umumnya stereotipe yang dimiliki individu terhadap individu dari kelompok lain misalnya etnis dapat dibentuk melalui relasi secara langsung (direct relationship) ataupun relasi tidak langsung melalui sosialisasi rasial (racial sosialization atau ethnic socialization).

Tulisan ini akan membahas secara ringkas tentang sosialisasi rasial dengan tujuan mengenalkan gambaran sosialisasi rasial secara teori yang dapat menjadi sarana refleksi pembaca bagaimana sosialisasi rasial yang dilakukan atau diterima dari orangtua atau keluarga. Sosialisasi rasial terdiri atas cultural socialization, egalitarian behavior, preparation for bias, dan promotion mistrust. Cultural socialization adalah bagaimana individu dikenalkan tentang tradisi, sejarah, kebanggaan, nilai yang berasal dari etnis individu sendiri. Egalitarian behavior adalah bagaimana individu dikenalkan tentang perilaku kesetaraan antara etnis individu dengan etnis yang lain. Preparation for bias adalah mempersiapkan individu bahwa individu mungkin akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan karena adanya perbedaan etnis dan mempersiapkan individu bagaimana cara menghadapi kondisi tersebut secara positif. Promotion mistrust adalah mengenalkan tentang ketidakpercayaan terhadap etnis lain, harus hati-hati dengan etnis lain, tanpa mempersiapkan individu bagaimana cara menghadapi situasi tersebut secara positif.

Hasil penelitian penulis secara kualitatif pada 5 subjek tentang dinamika sosialisasi rasial, sosialisasi rasial yang terlalu menekankan pada cultural socialization dan promotion mistrust dapat berdampak pada munculnya sterotipe negatif terhadap etnis lain, menganggap bahwa etnisnya sendiri lebih baik dari etnis lain, dan etnosentrisme yang tinggi, sehingga berdampak pada kecenderungan untuk melakukan diskriminasi serta sulit melakukan relasi sosial yang sifatnya timbal balik dan mutual.

Keluarga merupakan institusi pertama dari seorang anak, sosialisasi rasial juga ditanamkan dalam keluarga. Apakah stereotipe negatif dan konflik antar etnis akan terus diwariskan dari generasi ke generasi sehingga tidak akan habis. Konflik memang tidak akan pernah dapat dihapuskan, namun konflik dapat dikelola. Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam keluarga adalah sosialisasi rasial yang bijak, menyeimbangkan antara cultural socialization, egalitarian behavior, dan preparation for bias. Semoga semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi pajangan semu bagi Bangsa Indonesia.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/21/Sosialisasi-Rasial.html