Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bom mengguncang di pos polisi MH Thamrin Sarinah Jakarta pada 14 Januari 2016. Kejadian ini merupakan kasus terorisme kesekian kalinya di Jakarta. Terorisme jelas sebagai bentuk kekerasan yang mengakibatkan korban luka dan meninggal dunia. Terdapat beberapa kesamaan pola aksi terorisme yang telah terjadi yaitu umumnya dilakukan di lokasi-lokasi yang strategis dan pusat keramaian meskipun kemungkinan terjadinya terorisme dapat dimanapun. Tujuannya menimbulkan dampak kerusakan material yang signifikan, menyebabkan banyak korban, dan membuat rasa takut kepada banyak orang atau memiliki skala yang luas (mass trauma).

Dengan demikian secara tidak langsung dampak terorisme membuat masyarakat sipil merasa terancam atau tidak aman. Sebagai bukti setelah kejadian bom tersebut banyak orang merasa takut bepergian, jalanan menjadi lebih sepi dari sebelumnya, dan pusat-pusat perbelanjaan atau pusat keramaian tidak terlalu banyak pengunjung. Beberapa pesan berantai yang merupakan peringatan untuk berhati-hati dengan sumber yang tidak jelas tersebar sehingga membuat masyarakat semakin khawatir. Artinya kejadian tersebut membuat suasana psikologis dan sosial masyarakat negatif.

Dampak lainnya menyebabkan pemerintah tertekan. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dalam negara selama ini telah berupaya membuat stabilitas pemerintahan dan keamanan terjaga namun dengan kejadian tersebut menggambarkan bahwa keamanan belum tercapai. Sebelum kejadian beberapa negara bahkan telah memberikan travel warningkepada warga negaranya agar tidak bepergian ke Indonesia. Dampak secara ekonomi membuat nilai tukar mata uang berkurang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, kepercayaan pihak luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia juga terancam. Mengapa demikian? Karena stabilitas ekonomi negara juga tergantung pada stabilitas keamanan.

Sekarang yang perlu dicermati adalah teror tersebut tujuannya apa?. Secara teori berbagai bentuk terorisme dapat didasari beberapa faktor, salah satunya faktor sosial yaitu untuk memecah belah suatu kelompok atau antar kelompok dalam masyarakatdan membuat masyarakat tidak aman. Faktor politik dapat sebagai bentuk pengalihan isu-isu sensitif, menyudutkan negara, organisasi atau pertai tertentu dalam kasus ini ancaman terorisme dikaitkan dengan America Branded. Kejadian tersebut dapat membuat masyarakat tidak percaya sepenuhnya kepada pemerintah atau pihak keamanan mampu menjamin keamanan hidup di Indonesia.

Demikian juga faktor agama yang sangat jelas merupakan bentuk pecah belah antar individu atau kelompok apabila tidak dikelola dengan baik. Dalam kasus ini aksi terorisme dikaitkan sebagai bentuk penegakan agama tertentu karena selama ini menurut pelaku terorisme penerapan agama tersebut sudah melenceng dari ajaran yang sebenarnya. Pertanyaan berikutnya, agama apa yang dianut para perencana dan pelaku terorisme? Agama mengajarkan kebaikan dan cinta kasih, apakah bentuk terorisme menggambarkan cinta kasih, sungguh kontradiktif. Terorisme merupakan bentuk kekerasan dan tidak merepresentasikan ajaran agama apapun.

Apapun faktor penyebabnya, terorisme merusak kedamaian yang sudah diupayakan, mengancam keselamatan manusia, dan bentuk pelanggaran hukum. Dengan adanya terorisme manggambarkan manusia mengalami kemunduran terutama sisi moral dan humanismenya. Pada masa lalu dunia diwarnai dengan peperangan antar bangsa, sekarang yang terjadi kekerasan dan intimidasi dalam bentuk terorisme. Terorisme merupakan ancaman nyata dan masih mungkin akan terulang kembali. Mari kita meningkatkan kewaspadaan, kita ingin merasakan kedamaian di Indonesia.

Turut berbelasungkawa kepada para korban teror bom Jakarta.