Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

"Wah enak ya transportasi kereta di Taipei bagi penyandang disabilitas, kalau di Surabaya kita harus punya kendaraan pribadi agar bisa nyaman bepergian", demikianlah ungkapan seorang teman penyandang disabilitas ketika melihat video tentang transportasi bagi penyandang disabilitas di Taipei yang penulis tunjukkan. Ungkapan teman penulis tersebut menyiratkan bahwa di Surabaya belum menyediakan fasilitas umum yang memadai bagi penyandang disabilitas salah satunya adalah fasilitas transportasi umum. Penyandang disabilitas sulit menikmati fasilitas umum di Surabaya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia karena hampir semuanya didesain untuk non disabilitas. Salah satu kota besar di Indonesia yang mulai memperhatikan fasilitas umum bagi penyandang disabilitas adalah kota Jakarta dengan mulai adanya fasilitas taksi yang didesain bagi penyandang disabilitas meskipun masih terbatas. Bandingkan dengan beberapa kota di luar negeri salah satunya kota Taipei Taiwan, kita dapat belajar dari kota Taipei yang memiliki keramahan fasilitas transportasi bagi penyandang disabilitas.

Taipei merupakan salah satu kota yang memiliki kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Banyak fasilitas umum yang didesain sangat ramah bagi penyandang disabilitas sehingga penyandang disabilitas dapat memanfaatkannya dengan nyaman. Mulai dari jalur pedestarian (pejalan kaki), toilet umum, kantor publik, tempat wisata, pusat perbelanjaan, taman kota, stasiun bis, stasiun kereta api, hingga bandara. Hampir setiap hari ketika penulis bertugas di Taipei menggunakan layanan MRT, dan setiap harinya penulis menemui penyandang disabilitas menggunakan layanan MRT secara mandiri dengan bantuan secara minimalis dari petugas stasiun atau petugas kereta.

Mengapa demikian? Penjelasannya sebagai berikut, mulai dari memasuki stasiun MRT telah terdapat jalur khusus bagi penyandang disabilitas untuk memasuki stasiun dan didesain khusus untuk penyandang disabilitas. Mulai jalur kursi roda hingga lift khusus yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Ketika memasuki MRT, penyandang disabilitas tidak perlu repot mengantri di deretan tunggu penumpang non disabilitas karena terdapat jalur prioritas yang berada di ujung depan atau ujung belakang. Jalur prioritas tadi akan tepat berada di bagian gerbong MRT yang telah tersedia tempat khusus penumpang penyandang disabilitas. Bagi penyandang disabilitas berkursi roda akan ditempatkan di ujung MRT jadi merupakan tempat khusus di MRT tanpa seat. Bagi penyandang disabilitas yang mengalami keterbatasan penglihatan juga demikian, menunggu kedatangan kereta di jalur khusus penyandang disabilitas dan nantinya akan menempati kursi yang disediakan khusus bagi penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu dengan anak kecil, ataupun lansia. Saat tiba di stasiun tujuan dan keluar dari MRT telah terdapat petugas kereta atau stasiun yang dengan sigap akan membantu penyandang disabilitas tersebut untuk keluar stasiun. Dengan segala fasilitas yang disediakan khusus bagi penyandang disabilitas, penyandang disabilitas dapat memanfaatkan fasilitas umum dengan ritme seperti penumpang non disabilitas yaitu berjalan secara cepat, masuk dan keluar MRT secara cepat dan tertib. Penyandang disabilitas tidak sampai membuat antrian panjang atau menghambat penumpang lain untuk bergerak secara cepat yang merupakan kekhasan karakteristik penduduk Taipei.

"Penyandang disabilitas merupakan warga Taiwan yang memiliki hak yang sama mendapatkan pelayanan dari pemerintah seperti warga lainnya". "Apalagi jumlah penyandang disabilitas di Taiwan juga sangat banyak mengingat Taiwan juga merupakan negara yang memiliki kerawanan bencana salah satunya gempa bumi yang menjadi penyebab banyak warganya mengalami disabilitas", demikian kata seorang petugas MRT Huzhou station ketika penulis menanyakan fasilitas umum yang ramah penyandang disabilitas di Taipei. Selain itu kesadaran warga yang tidak mengalami disabilitas bahwa terdapat jalur atau fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas yang seharusnya tidak mereka gunakan meski terdapat kesempatan untuk menggunakan juga perlu dicontoh. Misalnya lift bagi penyandang disabilitas juga dapat digunakan untuk non penyandang disabilitas, tetapi mereka tetap menggunakan eskalator atau tangga dan memprioritaskan penyandang disabilitas untuk menggunakan lift. Dengan demikian terjadi harmoni antara penyandang disabilitas dan non disabilitas.

Andaikan kondisi seperti yang ada di Taipei terdapat juga di Surabaya tentunya makin banyak penyandang disabilitas yang secara mandiri memanfaatkan fasilitas umum termasuk transportasi massal. Namun itu semua butuh proses untuk kemajuan Surabaya ke depannya. Semoga kerinduan akan fasilitas umum yang ramah bagi penyandang disabilitas dapat segera terwujud.