Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Indonesia darurat kabut asap! Itulah beberapa headlineberita yang ada di beberapa media berkaitan dengan bencana kabut asap yang terjadi di Indonesia. Kabut asap yang disebabkan terjadinya kebakaran hutan di Pulau Sumatera memberikan dampak hebat bagi pemukiman penduduk di Indonesia bahkan sampai ke beberapa daerah negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia pastinya mengurangi fungsi hutan untuk paru-paru dunia. Menyadari dampak dari kebakaran hutan yang terjadi, pemerintah berusaha keras memadamkan kebakaran agar kabut asap tidak semakin meluas, namun kabut asap tetap tidak dapat dikendalikan. Beberapa negara menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran hutan karena wilayahnya terdampak kabut asap dan menilai pemerintah Indonesia tidak akan mampu mengatasinya yang semula ditolak kemudian disetujui. Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia sebenarnya bukan kejadian yang pertama bahkan dapat dikatakan terjadi rutin khususnya pada musim kemarau. Dengan demikian seharusnya pemerintah Indonesia dapat belajar dari data tersebut dan mempelajari bagaimana mengantisipasi dan menghadapinya apabila terjadi kebakaran hutan.

Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam terutama bencana banjir, tanah longsor, gunung meletus, angin puting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dengan potensi bencana alam yang sudah teridentifikasi salah satunya adalah kekeringan dan kebakaran hutan seharusnya pemerintah lebih memfokuskan pada bentuk-bentuk penanganan secara spesifik. Sebagai contoh kebakaran hutan yang disebabkan kekeringan (meskipun informasi yang didapatkan tidak semuanya karena faktor kekeringan) memang tidak bisa diantisipasi secara mutlak untuk tidak terjadi, karena faktor alam namun perlu adanya penanganan bagaimana cara memadamkannya. Kita dapat belajar dari kasus yang terjadi sekarang ini, saat pemadaman kebakaran hutan, pemerintah Indonesia mengerahkan pesawat-pesawat untuk memadamkan api dengan kapasitas air sekitar 2 hingga 3 ton. Dengan kapasitas tersebut hasilnya sangat sulit untuk memadamkan kebakaran hutan yang terjadi karena area atau lahan yang terbakar sangat luas.

Bandingkan dengan beberapa spesifikasi pesawat negara lain yang menawarkan bantuan, kapasitas air yang dapat diangkut sekitar 20 hingga 21 ton air. Perbandingan yang sangat jauh untuk kemampuan peralatan memadamkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah namun semua komponen masyarakat, namun yang memiliki kemampuan untuk membeli ataupun melakukan pengadaan peralatan untuk pemadaman seperti pesawat pemadam adalah pemerintah. Pesawat pemadam merupakan peralatan yang sangat penting untuk kasus kebakaran hutan karena media yang paling efektif untuk memadamkan kebakaran hutan.

Semoga kasus ini membuat pemerintah menjadi lebih sadar untuk mengalokasikan rancangan pembelanjaan negara pada pesawat-pesawat pemadam kebakaran hutan, tidak hanya pada pesawat tempur. Kasus kebakaran hutan yang berdampak pada kabut asap sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya pengenalan potensi bencana di sekitar kita dan pentingnya pendidikan kebencanaan. Pengenalan potensi bencana di sekitar kita dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan bencana yang dapat dialami termasuk bencana kebakaran hutan. Pendidikan kebencanaan penting untuk membangun kesadaran akan pelestarian lingkungan, pencegahan dan cara penanganan kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan.