Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Amankah anak-anak kita dari potensi ancaman kekerasan? Pertanyaan tersebut selalu muncul saat terjadi kekerasan yang menimpa anak-anak. Kasus Angeline yang mendapatkan kekerasan hingga meninggal dunia dan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak menyadarkan kita akan masih lemahnya perlindungan terhadap anak-anak. Selain itu kita harus sadar bahwa banyak kasus kekerasan terjadi di tempat-tempat yang tidak terduga akan dapat terjadi kekerasan. Misalnya saja di sekolah, di rumah, di tempat penitipan anak, di rumah sakit, kantor kepolisian, dan di tempat ibadah. Kasus-kasus kekerasan tersebut umumnya dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitar anak dalam kesehariannya, dan orang-orang terdekat dari anak.

Sebagai contoh kekerasan yang terjadi di sekolah, anak-anak mendapatkan kekerasan verbal, kekerasan fisik, ataupun kekerasan seksual. Pelakunya kurang lebih guru, teman-teman, ataupun petugas sekolah. Anak-anak akan sulit dekat dengan orang-orang yang tidak dikenal, tetapi lebih mudah patuh atau mengikuti orang-orang yang dikenal. Dengan demikian potensi untuk mengalami kekerasan dari pelaku-pelaku tersebut memang lebih besar.

Kekerasan yang terjadi di rumah, kekerasan yang dialami anak-anak biasanya pelakunya adalah orang tua baik ayah atau ibu, keluarga yang lain misalnya kakek, nenek, ataupun keluarga yang lainnya. Bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi dapat berupa fisik, verbal, ataupun seksual. Sebagai contoh banyak kasus kekerasan seksual pelakunya adalah anggota keluarga atau orangtua anak-anak. Bahkan pengasuh atau pembantupun dapat melakukan kekerasan terhadap anak-anak. Misalnya saja anak yang termasuk aktif beraktivitas, biasanya akan membuat repot pengasuh, untuk mengatasinya maka pengasuh memberikan obat tidur secara terus menerus sebagai jalan pintas. Dampak jangka panjang efek pemberian obat tidur bagi anak tidak pernah dipikirkan.

Kekerasan yang terjadi di tempat ibadah, pelakunya berdasarkan fakta antara lain pengasuh spiritual, pengajar agama, dan pemuka agama. Merupakan suatu ironi ketika di tempat yang disucikan dapat terjadi kekerasan kepada anak-anak dan terlebih lagi dilakukan orang-orang yang seharusnya menjadi panutan. Kekerasan yang dialami anak-anak dapat berdampak negatif pada anak karena menyebabkan masalah personal, sosial, dan fisik. Meskipun pelakunya telah mendapatkan hukuman, dampak kekerasan terhadap anak tetap terjadi.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, masa dengan bangsa Indonesia ditentukan anak-anak kita. Pertanyaannya bagaimana dengan anak-anak yang mengalami kekerasan dapat menjadi generasi yang memiliki kualitas insani yang baik apabila mengalami masalah personal, sosial, dan fisik. Beberapa fakta menunjukkan anak yang mengalami kekerasan, pada masa dewasa memiliki kualitas insani yang baik dan dapat berkontribusi positif dalam kehidupan. Namun kekerasan terhadap anak tetap memiliki potensi yang sangat besar berdampak negatif terhadap anak apabila tidak tertangani dengan baik. Maka mari kita jaga anak-anak kita dari potensi ancaman kekerasan sehingga tidak lagi bertambah kasus kekerasan yang terjadi.