Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Gempa Nepal terjadi pada tanggal 25 April 2015 dengan kekuatan magnitude 7,9 dan kembali mengalami gempa dengan kekuatan magnitude 7,3 pada tanggal 12 Mei 2015. Ribuan orang dilaporkan tewas, masih banyak yang belum ditemukan, korban luka, kerusakan fisik, dan mengakibatkan krisis pada penduduk Nepal. Menilik dari sejarah bencana alam yang terjadi di Nepal, gempa bumi besar pernah terjadi di Nepal pada tahun 1934, 1966, 1980, dan 1988. Masing-masing gempa yang terjadi mengakibatkan ratusan hingga ribuan korban tewas. Nepal sendiri merupakan negara dengan tingkat hazards(ancaman) bencana alam gempa bumi yang tergolong tinggi berdasarkan pada letak Nepal yang berada pada lempeng benua India dan Eurasia yang saling bertumbukan sehingga mengakibatkan gempa bumi.

Berdasarkan beberapa analisis besarnya korban jiwa, luka-luka ataupun kerusakan fisik yang terjadi disebabkan di Nepal sendiri memiliki kerentanan (vulnerability) terkait dengan ancaman gempa. Beberapa kerentanan itu kurang siapnya warga dalam menghadapi kemungkinan gempa, karena gempa yang terakhir berdasarkan sejarah terjadi pada tahun 1988. Banyak bangunan yang tidak didesain anti gempa atau mengurangi kemungkinan rusak parah akibat gempa, dan bangunan yang memang sudah berumur tua sehingga mudah roboh akibat gempa. Dengan hazardsdan vulnerabilityyang tinggi, wajar akhirnya banyak korban jiwa, luka, dan kerusakan fisik yang diakibatkan gempa tersebut.

WHO menyebutkan tiga komponen dalam bencana, yaitu hazards, vulnerability, dan risk. Hazards(bahaya/ancaman) adalah potensi mengalami bencana yang dapat berdampak pada korban jiwa, cedera, atau kehilangan/kerusakan materi. Potensi bencana dikarakteristikkan lokasi, intensitas, frekuensi, dan kemungkinan yang dapat terjadi. Vulnerability merupakan kondisi kerentanan yang disebabkan faktor fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkaitan dengan efek hazards. Riskadalah kemungkinan mengalami dampak merusak atau negatif dari bencana yang merupakan kombinasi dari hazardsdan vulnerability.

Berkaitan dengan bencana gempa Nepal, Indonesia dapat belajar dari bencana tersebut karena Indonesia juga memiliki hazardsdan vulnerabilityyang tinggi sehingga memiliki riskyang tinggi juga. Indonesia memiliki kerawanan bencana gempa bumi dan telah terbukti salah satu bencana alam yang sering melanda Indonesia adalah gempa bumi. Mengapa demikian, karena Indonesia Indonesia dilingkupi oleh busur cincin api Pasifik (Pacificring of fire) yang ditunjukkan dengan adanya rangkaian pegunungan dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Di Indonesia terdapat sebanyak kurang lebih 129 gunung berapi yang masih aktif dan jumlah gunung berapi yang ada di Indonesia sebanyak 14 persen dari total gunung berapi yang aktif yang ada di bumi. Apabila dibuat rangkaian jalur gunung berapi di Indonesia, panjangnya 7.000-7.500 kilometer dan lebar 50-200 kilometer.

Indonesia juga berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama bumi yaitu Samudera India-Australia di sebelah selatan, Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Eurasia. Pergerakan relatif ketiga lempeng tektonik dan dua lempeng lainnya, yakni laut Philipina dan Carolina menyebabkan gempa bumi di daerah perbatasan pertemuan antar lempeng dan juga menimbulkan terjadinya sesar-sesar regional yang selanjutnya menjadi daerah pusat sumber gempa.

Mengacu pada sejarah gempa yang terjadi di Indonesia, selalu mengakibatkan jumlah korban jiwa yang tidak bisa dikatakan sedikit, korban luka, dan kerusakan infrastruktur. Hal ini sebagai bukti riskyang dimiliki Indonesia berkaitan dengan bencana gempa bumi tergolong tinggi. Selain karena hazards, Indonesia juga masih dipertanyakan tentang kesiapannya dalam menghadapi bencana gempa bumi. Kesiapan dalam menghadapi ancaman bencana gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu dapat meliputi bagaimana cara menyelamatkan diri ketika berada di dalam gedung, ketika berada di dalam gedung, dan ketika dalam perjalanan dengan menggunakan kendaraan. Bagaimana apabila terjadi gempa besar tempat padat penduduk dan bangunan seperti kebanyakan daerah di kota-kota besar Indonesia?. Belum banyak dari kita yang menyadari akan pentingnya kesiapan dalam menghadapi bencana. Berapa banyak dari kita yang kemudian menjadi aware setelah bencana gempa bumi Nepal? Apakah kita harus menunggu setelah mengalami kejadian baru bereaksi mempersiapkan diri? Seharusnya kita dapat belajar dari peristiwa gempa Nepal, bahwa negara kita juga memiliki potensi besar mengalami kejadian serupa dan telah banyak bukti dari sejarah gempa yang terjadi di Indonesia dengan mempersiapkan diri menghadapi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/175/Belajar-Dari-Gempa-Nepal.html