Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Salah satu bagian penting dari program Psychological First Aidpenyintas bencana adalah psychological health, yaitu comfortable. Pada bagian ini penyintas mendapatkan bantuan penanganan untuk menjadi nyaman secara psikologis saat atau setelah mengalami bencana. Reaksi yang umumnya muncul adalah kondisi yang tidak nyaman, terutama saat berada di pengungsian karena perubahan pola hidup yang biasanya berada di rumah atau tempat yang sangat privasi, kemudian tinggal bersama dengan orang lain di area publik. Perlu digarisbawahi bahwa ketidaknyamanan secara psikologis belum tentu mengalami gangguan psikologis atau trauma.

Beberapa kondisi ketidaknyamanan psikologis tersebut dapat berupa perasaan kosong (emptiness), perasaan kehilangan (loss), dan perasaan tidak beruntung (luck of bad). Ketidaknyamanan psikologis berupa perasaan kosong, perasaan kehilangan, dan perasaan tidak beruntung karena pada dasarnya penyintas mengalami kondisi yang tidak menyenangkan dan memberikan dampak kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, material, mata pencaharian, dan lain sebagainya yang penting bagi penyintas. Ketiga perasaan tidak nyaman tersebut dapat menyebabkan penyintas merasa teralienasi (terasingkan) dari orang-orang yang tidak mengalami bencana. Kondisi teralienasi tetap dapat terjadi meskipun penyintas berada di pengungsian bersama dengan penyintas bencana yang lain. Dampak perasaan teralienasi, penyintas menjadi sulit mendengarkan cerita keluh kesah sesama penyintas, merasa dirinya yang lebih tidak beruntung dibandingkan penyintas yang lain, serta mudah sekali merasa iri ketika ada penyintas yang lain mendapatkan bantuan, rendahnya perasaan percaya (trust) sehingga secara tidak langsung kondisi ini dapat memperbesar potensi terjadinya konflik diantara penyintas.

Salah satu strategi mengurangi perasaan teralienasi penyintas bencana melalui kegiatan kebersamaan yang bermakna, dengan tujuan tercapai perasaan kebersamaan, rasa percaya, serta memiliki relasi yang baik antara penyintas dan pihak-pihak yang memberikan bantuan. Membangun relasi berbeda dengan sekadar berada bersama, karena dalam relasi menekankan pada kebermakanaan relasi sehingga survivor tidak lagi merasa teralienasi. Oleh karena itu di beberapa tempat pengungsian bencana dilakukan aktivitas bernyanyi atau bermain, yang dilakukan tidak hanya pada anak-anak kecil tetapi juga pada remaja, dewasa, dan lansia, yang pada prinsipnya tidak hanya sekadar pengisi waktu luang dan hiburan untuk membuat nyaman secara psikologis, tetapi juga membangun relasi. Terdapat juga model melakukan aktivitas bersama seperti bekerja bersama (occupational activity) memperbaiki sarana umum, atau membangun fasilitas yang dibutuhkan bersama.

Melalui beberapa aktifitas tersebut penyintas diajak saling menyapa penyintas lain, saling mengenal penyintas lain, karena dengan menyapa dan mengenal maka relasi yang lebih dalam dan kepercayaan dapat terbangun. Dalam melakukan aktivitas penyintas secara tidak langsung diajak tidak berfokus pada dirinya, pada saat tersebut merupakan kesempatan penyintas melihat kondisi penyintas yang lain, sehingga dapat menyadarkan penyintas bahwa masih terdapat orang lain yang juga mengalami kondisi serupa dengan dirinya dan mereka tidak sendiri menghadapi kondisi bencana.