Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tanggal 21 April 2015, waktunya kembali memperingati Hari Kartini terutama sebagai bentuk refleksi dan evaluasi emansipasi perempuan dalam kehidupan. Perjuangan Kartini tentang emansipasi perempuan nampaknya sudah mulai menunjukkan titik terang seperti bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui emansipasi perempuan, maka perempuan bisa menunjukkan kehadirannya di dunia tidak hanya sekadar di area kasur, dapur, sumur, dan kubur seperti di masa lalu. Banyak perempuan yang telah menunjukkan pentingnya perannya, mulai dari area pemerintahan, area militer, area ekonomi perdagangan, area pendidikan, area kesehatan, area industri, dan area kehidupan lain seperti penanganan kebencanaan. Tulisan kali ini akan membahas tentang sebuah contoh emansipasi perempuan di area bencana.

Sebuah contoh saat Erupsi Gunung Merapi salah satu dampaknya adalah banyak penduduk yang kehilangan mata pencahariannya. Terdapat beberapa upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk membangkitkan dan menata kembali kehidupan penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi. Salah satu yang dilakukan adalah dengan berwirausaha bakpia telo. Bakpia adalah makanan khas simbol kota Yogyakarta sehingga memiliki nilai jual. Hal inilah yang menginsipirasi kelompok ibu-ibu yang sebelumnya memiliki mata pencaharian di bidang catering makanan untuk mengolah bahan telo menjadi bakpia. Ibu-ibu tersebut mendapatkan pelatihan untuk pemberdayaan mereka, sehingga dengan bekal pelatihan dan kemampuan yang dimiliki mereka mampu bangkit melalui pemberdayaan ekonomi. Karya ibu-ibu tersebut kemudian diikutkan dalam kompetisi yang diadakan sebuah lembaga negara dan berhasil menjadi pemenang. Keberhasilan ini, sekaligus menjadi penyemangat penduduk yang lain untuk berusaha menjadi sebagai bentuk rekonstruksi kehidupan penduduk pasca erupsi Merapi (catatan tulisan lebih lanjut tentang hal ini dapat dibaca di artikel dengan judul Kreativitas Pengungsi Merapi dalam Proses Rekonstruksi yang dimuat di web ubaya pada 4-12-2012).

Masih di area bencana Gunung Merapi, penulis juga menemukan seorang ibu yang memiliki dedikasi tinggi di bidang pendidikan anak usia dini. Dengan bekal hanya lulusan SMA, ibu tersebut menjadi koordinator PAUD di sebuah desa di lereng Merapi. Saat erupsi Merapi terjadi, kader PAUD dan peserta PAUD mengalami penurunan jumlah secara drastis sehingga dapat dikatakan program PAUD tidak dapat berjalan. Dengan usaha kerasnya ibu tersebut menjadi penyemangat kader PAUD yang lain, mencoba menghubungkan kebutuhan pengembangan PAUD pada pihak-pihak yang berkaitan dan berusaha meyakinkan orangtua tentang pentingnya PAUD bagi anak-anak usia dini. Usaha tersebut tidak sia-sia meskipun di awal-awal usaha mengalami hambatan. Di masa rekonstruksi pasca bencana erupsi Gunung Merapi, program PAUD berhasil dijalankan kembali.

Sebuah contoh terakhir tentang emansipasi perempuan, ditunjukkan oleh seorang koordinator pengungsi yang hingga saat ini masih berada di area pengungsian. Tiga tahun sudah pengunsi mendiami area pengungsian yang disediakan pemerintah, namun tidak mengetahui hingga kapan mereka akan dapat kembali ke daerah asalnya. Kembali ke koordinator pengungsi, kepedulian yang tinggi diberikan terutama kepada anak-anak dan perempuan. Mulai dari menjadi pengajar anak-anak, menjadi fasilitator bermain anak-anak, memberdayakan rekan-rekan seusia dan ibu-ibu, serta menjadi penanggungjawab kesehatan pengungsi apabila harus berobat. Dedikasi tinggi sebagai bentuk emansipasi tersebut tentu ada pengorbanannya, pernikahan yang harus ditunda karena selama ini pasangan tidak bisa menerima ketika mengurus pengungsi yang lain, pendidikan yang terganggu karena saat bersekolah setiap ada panggilan pengungsi sakit harus kembali ke pengungsian untuk dibawa ke balai pengobatan, pendidikan formal lanjutan juga harus ditunda karena tidak bisa meninggalkan anak-anak di area pengungsian. Namun ketika melakukannya, koordinator tersebut merasakan dirinya menjadi lebih memiliki semangat hidup di dalam pengungsian seakan merasakan fungsi dirinya dalam kehidupan. Sehingga tidak menyesal dalam menjalani peran sebagai pemberdaya anak-anak dan perempuan.

Berkaca dari berbagai bentuk emansipasi perempuan yang telah dilakukan di area bencana, emansipasi merupakan keputusan atau pilihan sadar yang diambil perempuan yang tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan orang lain. Setiap pilihan tentu terdapat konsekuensi baik positif dan negatif. Hal itulah yang telah dicontohkan Kartini di masa lalu tentang emansipasi perempuan.

Selamat memperingati Hari Kartini 2015, semoga semangat Kartini terus hidup untuk kemajuan bangsa Indonesia.