Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Keberagaman, itulah kata yang dapat menggambarkan kondisi bangsa Indonesia. Keberagaman agama, keberagaman etnis, keberagaman budaya, dan keberagaman yang lain. Dengan keberagaman tersebut seharusnya membuat bangsa kita memiliki ciri khas dan kesatuan yang kuat apabila keberagaman tersebut dikelola dengan baik. Namun sayangnya hingga saat ini keberagaman yang ada masih berpotensi menjadi sumber konflik di Indonesia. Keberagaman merupakan kondisi yang ada di Indonesia, seharusnya terjadi penghargaan terhadap setiap perbedaan yang ada, karena semua warga negara Indonesia memiliki kebutuhan dihargai dan merasa aman.

Telah terdapat banyak contoh atau kasus-kasus yang memprihatinkan menunjukkan bahwa masih terdapat celah yang berpotensi mencerai berai kehidupan multikultur kita. Stereotipe-stereotipe dan prasangka etnis tertentu masih terjadi serta seringkali dimunculkan dalam konteks yang tidak berkaitan. Dalam kaitannya dengan prinsip psikologi komunitas, hal tersebut menggambarkan belum tercapainya pengakuan keberagaman dan penghormatan terhadap adanya perbedaan. Pengakuan keberagaman dan penghormatan terhadap perbedaan, merupakan kunci keberhasilan dalam kehidupan multikultur. Dengan adanya penerapan tersebut sangat memungkinkan terjadinya akulturasi dan kehidupan keberagaman yang harmonis. Sebagai contoh sederhana pengelolaan keberagaman adanya akulturasi dan kehidupan keberagaman yang harmonis adalah Loenpia Semarang yang seringkali disimbolkan sebagai buah cinta Tionghoa dan Jawa.

Loenpia Semarang, siapa yang tidak mengetahui kenikmatan makanan khas Semarang ini?. Makanan yang terdiri atas rebung, telur, sayuran segar, dan daging ayam atau udang yang dibungkus dengan kulit tepung gandum. Loenpia Semarang ditilik dari sejarahnya merupakan percampuran antara makanan Tionghoa dan Jawa, yang dibuat orang Tionghoa yang menikah dengan orang Jawa di Semarang yang menggambarkan kekhasan rasa makanan Tionghoa dan Jawa. Awalnya makanan khas Tionghoa berisi daging babi dan rebung yang rasanya gurih, sedangkan makanan khas Jawa berisi kentang dan udang serta rasanya lebih manis. Setelah diolah dan dicampur menjadi Loenpia Semarang rasanya menjadi lebih nikmat dibandingkan makanan awalnya, gurih dan manis serta menjadi makanan lintas budaya Tionghoa Jawa.

Nah, kita dapat belajar dari menilik sejarah Loenpia Semarang sebagai sebuah produk akulturasi yang menghasilkan kenikmatan, kita tidak lagi merasakan nikmat dari salah satu bagian makanan khas Cina atau makanan khas Jawa, tetapi kenikmatannya berasal dari percampurannya. Kita dapat belajar mengaplikasikannya dalam kehidupan multikultural yang harmonis sehingga mengurangi potensi konflik-konflik yang membuka kembali luka-luka masa lalu akibat konflik antar etnis.