Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Sebuah dialog menarik penulis temui ketika dalam perjalanan pulang menggunakan kereta api dari Yogyakarta menuju Surabaya. Seorang anak yang duduk bersebelahan dengan penulis, dan yang penulis ketahui berusia 6 tahun bertanya kepada ibunya, “Ma, ayo mulai sekarang kita kalau ngomong pakai bahasa Inggris, jangan pakai bahasa Indonesia lagi”. Mendengar pertanyaan anaknya, ibunya menjawab “Kenapa harus menggunakan bahasa Inggris nak?, kita orang Indonesia, dalam berbicara keseharian harusnya menggunakan bahasa Indonesia, kita harus bangga dengan bahasa Indonesia. Kita bisa belajar berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, karena memang sekarang masa banyak orang berinteraksi dari berbagai negara, tetapi orang Indonesia tidak boleh melupakan bahasa Indonesia”. Sebuah jawaban yang bijaksana dan membanggakan sebagai orang Indonesia. Dialog antara ibu dan anak tersebut diawali dari sebuah rombongan keluarga di kereta yang sama, ketika keluarga tersebut berbicara dengan anak-anaknya menggunakan bahasa Inggris. Keluarga tersebut secara fisik jelas menunjukkan identitas sebagai orang Indonesia, saat orang-orang tua berbicara juga menggunakan bahasa Indonesia. Sebuah kejadian menarik, ketika ada seorang anggota keluarganya bertanya kepada anaknya, orang tuanya menegur anggota keluarga tersebut untuk jangan berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia tetapi dengan menggunakan bahasa Inggris. Saat petugas kereta menawarkan makanan dengan menggunakan bahasa Indonesia, orang tuanya kembali mengatakan kepada petugas kereta bahwa anaknya tidak bisa berbahasa Indonesia, maka harus berbicara dengan bahasa Inggris. Sungguh ironi, orang Indonesia tidak bisa berbahasa Indonesia, terlebih kondisi ini dimungkinkan peran orang tua yang tidak menstimulasi dan membiasakan anak dalam kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi bahasa ibu.

Fenomena tersebut tidak hanya penulis temui di perjalanan menggunakan kereta api tersebut, saat berada di pusat perbelanjaan penulis sering menemui orang tua berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Inggris tanpa sedikitpun menggunakan bahasa Indonesia. Tentu pembaca juga pernah menemukan fenomena seperti ini. Tidak jarang kita menemui dialog atau komunikasi antara anak dan orang tua di area publik dengan menggunakan bahasa yang tercampur antara Indonesia dan Inggris seperti misalnya “mama angry lo ya, jangan nakal, ayo jadi smart”. Fenomena seperti ini sangat sering ditemui dan tidak terlepas dari masalah kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa fakta dari hasil rasa ingin tahu penulis terhadap orang tua yang berbicara dengan anak menggunakan bahasa Inggris terutama di tempat-tempat umum atau keramaian adalah menilai berbicara dengan anak menggunakan bahasa Inggris adalah trend dan kebutuhan. Trend karena orang-orang terdekat mereka seperti tetangga, sesame orang tua di sekolah anaknya, juga menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan terdapat sekolah yang mewajibkan orang tuanya berbicara menggunakan bahasa Inggris tidak hanya ketika di sekolah tetapi juga di rumah. Selain itu, trend menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari antara orang tua dan anak memunculkan rasa bangga. Rasa bangga karena saat kecil anak sudah bisa berbahasa Inggris, berbahasa Inggris diidentikkan dengan anak pintar, di saat banyak anak lainnya belum mampu berbahasa Inggris. Bangga karena menunjukkan anaknya bersekolah di tempat yang berkualitas dan bergengsi dengan ukuran bahasa wajib yang digunakan adalah bahasa Inggris. Selain itu orang tua juga bangga karena telah menyiapkan anak sejak kecil untuk terampil berbahasa Inggris yang dibutuhkan untuk masa depannya.

Belajar berbahasa asing sejak kecil memang sudah merupakan kebutuhan, karena masa globalisasi salah satunya memberikan tuntutan penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bukan kesalahan orang tua ketika mengajarkan anak berbahasa Inggris dan membiasakan anak berkomunikasi dengan bahasa Inggris, karena hal tersebut akan mengasah ketrampilan anak berbahasa Inggris. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika sama sekali anak tidak mampu berbicara menggunakan bahasa Indonesia, dan terlebih hal ini disebabkan kurangnya stimulasi dari orang tua dan tidak adanya pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Banyak orang tua berpendapat bahwa bahasa Indonesia dipelajari dengan sendirinya, tidak perlu les atau bimbingan belajar, berbeda dengan bahasa Inggris yang harus dipelajari secara intensif dan serius untuk mampu mahir menguasainya. Pendapat tersebut tidak benar, bagaimana mungkin anak akan mampu menguasai suatu bahasa kalau tidak diajarkan, distimulasi, dan dibiasakan menggunakannya termasuk bahasa Indonesia?. Sebagai bukti anak dari sebuah keluarga di kereta tadi, tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Ketika anak tidak diajarkan, tidak distimulasi, dan tidak dibiasakan secara aktif tentunya kemampuan bahasa Indonesianya tidak akan lancar.

Masih terekam jelas, beberapa jam sebelum naik kereta api saat penulis masih berada di stasiun Tugu Yogyakarta, seorang wisatawan asing yang hendak menuju Kantor Pos Besar Yogyakarta bertanya kepada seorang calon penumpang dengan menggunakan bahasa Indonesia “Saya hendak bertanya letak Kantor Pos Besar Yogyakarta berada di mana?”, bahkan setelah mendapatkan jawaban, wisatawan asing tersebut mengucapkan “matur nuwun” (terimakasih dalam bahasa Jawa). Bandingkan dengan orang Indonesia, ketika berkomunikasi dengan sesama orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi orang Indonesia tersebut tidak mampu berbahasa Indonesia seperti kasus anak di kereta tadi. Bagaimanapun, kita orang Indonesia, entah nantinya tetap tinggal di Indonesia atau tinggal di luar negeri seharusnya tetap mampu berbahasa Indonesia, tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia karena menunjukkan identitas bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, apabila dibuat perbandingnya yang ekstrim wajar apabila orang Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris, tapi menjadi pertanyaan penting adalah hidup di Indonesia, berinteraksi dengan orang-orang Indonesia, mengakui sebagai orang Indonesia, tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia atau tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia. Mengutip pidato Bung Karno tentang kebanggaan sebagai orang Indonesia, “Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana rupa orang Indonesia”. Bagaimana kita dapat menunjukkan kebanggaan sebagai orang Indonesia apabila kita tidak bangga menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa menunjukkan keterikatan budaya dan identitas bangsanya.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/162/Bangga-Berbahasa-Indonesia.html