Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tahun ini merupakan perayaan Tahun Baru Imlek 2566 Kongzili. Apa yang anda bayangkan saat mendengar kata ‘Tahun Baru Imlek’? berbagai macam bentuk hiasan dengan warna dominan merah dan emas, penyulutan kembang api, sembayangan leluhur, berkumpul dan makan bersama keluarga besar, pertunjukan barongsai, dan yang pasti tidak mungkin terlupakan, tradisi membagi angpao. Layaknya perayaan tahun baru modern yang kita kenal sekarang, semua itu merupakan tanda kemeriahan perayaan tahun baru Imlek. Budaya Cina adalah budaya yang juga kaya dengan keberagaman seperti di Indonesia. Contohkan saja tradisi makan bersama saat tahun baru. Beberapa keluarga mempunyai tradisi makan malam bersama yang biasanya dilakukan pada malam pergantian tahun, namun ada juga yang melakukan makan bersama pada hari H imlek dengan makan nasi yang sengaja disisakan pada H-1 imlek dan dimakan pada hari H Imlek. Semua budaya tersebut memiliki maknanya masing-masing bagi setiap orang yang menjalankannya.

Berbicara tentang Imlek, malam tahun baru Imlek sendiri dikenal dengan nama Chuxi. Di malam tahun baru Imlek biasanya juga disertai dengan penyulutan kembang api. Penyulutan kembang api ini tidak hanya sekadar untuk menunjukkan keramaian Imlek, namun sekali lagi terdapat simbol dibaliknya. Menurut tradisi, dahulu terdapat raksasa pemakan manusia, ternak, dan hasil bumi yang disebut Nian. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk dapat mengusir Nian salah satunya dengan menghias hampir seluruh bagian rumah dengan menggunakan warna merah menyala sehingga rumah tersebut tampak terbakar. Selain itu digunakan juga petasan yang bersuara keras dengan tujuan menakuti Nian. Dari kebiasaan itulah, perayaan Imlek identik dengan warna merah, baik pakaian yang digunakan ataupun pernak-pernik hiasannya seperti lampion dan umbul-umbul berwarna merah.

Tradisi lainnya yang tidak kalah menarik adalah tarian Barongsai. Barongsai merupakan tarian singa dari tradisi Cina yang merupakan simbol perayaan keberhasilan melawan ancaman atau musuh. Sejarahnya barongsai merupakan boneka buatan yang berbentuk singa yang digunakan untuk mengusir lawan yang menggunakan atau menunggangi gajah. Selain itu, barongsai juga menyimbolkan kebaikan, kemenangan, kesuksesan, dengan kata lain suasana psikiologis yang positif. Sangat menarik bukan?

Dibandingkan semua tradisi yang disampaikan di atas, menarik lagi ketika membahas tentang angpao. Sekarang ini salah satu ukuran kemeriahan perayaan Imlek adalah banyak sedikitnya angpao yang diterima. Angpao sendiri adalah uang yang diletakkan di dalam amplop berwarna merah yang umumnya diberikan pada saat tahun baru Imlek. Saat ini mulai muncul pola penghargaan terhadap orang yang memberi angpao berdasarkan nilai atau besarnya angpao. Makin besar angpao yang diberikan makin dihargai dan dianggap sukses memiliki banyak rejeki. Sebaliknya makin sedikit angpao yang diberikan maka makin rendah penghargaannya dan seringkali dianggap pelit atau rejekinya sedikit. Pola seperti ini kemudian memunculkan relasi transaksional antara individu. Apakah benar demikian esensi angpao Imlek?. Sebuah contoh teman penulis pernah mendapatkan angpao Imlek dari keluarga neneknya yang memang secara ekonomi tidak beruntung. Mengetahui tradisi Imlek untuk membagikan angpao kepada sanak saudara yang belum bekerja, ditengah kekurangan yang dirasakan, nenek ini tetap berusaha memberikan kebahagiaan terutama kepada cucu-cucunya dengan wajah suka cita, teman penulis menerimanya dengan perasaan gembira dan mengucapkan terimakasih demikian juga saudara-saudara teman penulis yang lain. Tetapi terlihat perubahan wajah saat membuka amplop angpao tersebut karena hanya berisi selembar uang 2000 rupiah. Perasaan merendahkan dan mengejek tampak dari wajah saudara-saudara yang tidak lagi menghargai angpao dari segi esensinya, melainkan dari segi ekonominya.

Setelah kejadian tersebut, saudara-saudara teman penulis saat perayaan Imlek tahun berikutnya tidak lagi datang ke rumah nenek pemberi angpao tadi karena uangnya tidak banyak. Lebih parah lagi ketika orang tua anak-anak tersebut malah mendukung perbuatan anak-anak mereka dengan alasan ekonomis yang sama yaitu uang angpao yang diterima tidak sebanding dengan uang bensin yang dikeluarkan untuk berkunjung ke rumahnya. Untunglah teman penulis tetap datang ke rumah neneknya tersebut meski besaran uang angpao yang diterima selalu tetap sebesar 2000 rupiah. Penulis mengutip pertanyaan yang dikatakan oleh teman penulis “apakah sekarang penghormatan yang diberikan terhadap orang yang lebih tua ditentukan oleh banyaknya angpao yang diterimanya?”. Pembelajaran yang didapatkan teman penulis adalah angpao merupakan salah satu bentuk kemeriahan perayaan tahun baru Imlek, esensinya bukan nilai atau besarnya angpao. Angpao memilliki makna kegembiraan dan nuansa positif semoga beruntung, berkah, kebaikan dan sejenisnya yang sejalan dengan warna amplop angpao berwarna merah dan ucapan khas tahun baru Imlek yang selalu terucap kata-kata Gongxi Fat Choi (selamat dan semoga banyak rejeki).

Itulah esensi dari tahun baru Imlek, memperkuat relasi dan saling mendoakan kesejahteraan satu sama lain. Selamat tahun baru Imlek 2566 Kongzili bagi saudara-saudara yang merayakan, Gongxi Fat Choi, Xinnian Kuaile.