Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tanggal 14 Februari merupakan perayaan Valentine, yang kalau mau kita akui secara jujur merupakan sebuah bentuk tradisi perayaan yang berasal dari budaya barat. Esensi dari perayaan tersebut positif, yaitu peringatan tentang kasih sayang kepada orang lain. Perayaan Valentine di Indonesia selalu dimuati dengan kontraversi. Bagaimana tidak kontraversi, kalau kemudian Valentine disempitkan dengan peringatan kasih sayang hanya kepada pasangan. Terutama pasangan yang belum menikah, yaitu yang sedang berpacaran, sehingga seringkali muncul istilah hari Valentine sebagai couple day hanya untuk mereka yang berpacaran. Lantas bagaimana dengan yang tidak atau belum berpasangan?. Peringatan kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada pasangan. Peringatan Valentine merupakan waktunya menunjukkan kasih sayang kepada orang lain. Namun apakah tepat seperti itu? Untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain tidak perlu menunggu peringatan hari Valentine yaitu 14 Februari. Kasih sayang dapat diberikan kepada orang lain, kapan saja asal waktunya tepat.

Kemudian, peringatan Valentine identik dengan pernak-pernik warna merah muda, seperti boneka warna merah muda dengan simbol cinta warna merah, cokelat yang pembungkusnya dibuat khusus warna merah muda dengan tulisan-tulisan kata mutiara bernuansa cinta, dan terutama bunga mawar warna merah atau merah muda. Pernak-pernik tersebut menjadi semacam kewajiban yang harus dibeli dalam peringatan hari Valentine. Apakah harus seperti itu? Demi peringatan Valentine harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli pernak-pernik Valentine sehingga peringatan lebih meriah. Tidak harus, hal tersebut menggambarkan perilaku konsumtif, yang tentunya tidak akan terlepas dari pihak produsen atau mall yang selalu berusaha menaikkan omzet penjualan melalui event-eventseperti peringatan Valentine. Beliefmasyarakat bahwa peringatan Valentine harus dengan membeli produk-produk edisi khusus Valentine dibentuk oleh pasar, yang tentunya jauh-jauh hari sebelum perayaan Valentine telah memajang berbagai properti peringatan Valentine.

Terakhir yang paling kontraversi adalah peringatan Valentine identik dengan perilaku seks pra nikah. Banyak kasus yang terjadi menunjukkan di hari Valentine, pasangan yang belum menikah melakukan hubungan seks sebagai bentuk kasih sayang tertinggi kepada pasangannya. Terdapat belief, waktu yang tepat melakukan hubungan seks pra nikah adalah di hari Valentine. Terdapat beliefpembeda perayaan hari istimewa pasangan dengan peringatan Valentine adalah selain memberi hadiah juga perilaku seksual sebagai bentuk menunjukkan kasih sayang. Peringatan Valentine bukan legalitas perilaku seks pra nikah, dengan alasan apapun, meski itu pilihan dan kemauan bertanggungjawab terhadap akibatnya. Perilaku seks dengan pasangan dapat dilakukan setelah resmi menikah. Pesan yang dapat disampaikan melalui tulisan ini adalah bagi yang memperingati dan merayakan hari Valentine, hendaklah dengan perilaku yang bijak, dan tepat sesuai dengan esensi hari Valentine itu sendiri.