Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Tentu pembaca masih ingat kasus pesawat Air Asia yang mengalami kecelakaan dalam jalur penerbangan Surabaya-Singapura. Sebuah kejadian yang kemudian menarik perhatian banyak pihak, mulai dari komunitas lokal (Surabaya), regional (Jawa Timur), nasional (Indonesia), dan internasional. Beragam bentuk perhatian yang diberikan mulai dari yang sederhana memasang status di media jejaring sosial seperti deep condolences, doa, RIP, dan sejenisnya yang menunjukkan kepedulian dan empati. Bantuan yang lain berupa pendampingan informasi, medis, fisik, dan psikologis kepada keluarga korban. Serta pencarian pesawat dan korban yang memakan waktu cukup panjang. Semua bentuk perhatian tersebut menunjukkan kepedulian, empati, tanggungjawab atas masalah sosial yang merupakan bentuk social sensitivity.

Social sensitivitysecara umum didefinisikan sebagai kemampuan menampilkan empati secara akurat terhadap kondisi, pikiran, dan perasaan orang lain, serta memiliki pengetahuan umum mengenai norma sosial, dan menerapkannya secara tepat. Berkaitan dengan kasus kecelakaan Air Asia, mungkin merupakan momen yang tepat untuk kembali menakar tingkat social sensitivity kita. Mengapa demikian, coba kita kembali ingat-ingat, saat banyak orang menunjukkan kepedulian, mencoba memahami yang dirasakan keluarga korban, ternyata terdapat pihak-pihak yang menampilkan perilaku yang dapat menyebabkan kemarahan publik. Sebagai contoh penayangan korban tanpa disensor melalui media, mungkin hal ini menjadi pro dan kontra karena di beberapa media sebelumnya korban kecelakaan, korban pembunuhan juga ada yang ditampilkan secara visual tanpa sensor, dan tidak ada bentuk kemarahan publik. Namun, apabila kita kembalikan lagi ke pertanyaan mendasar, "bagaimana kalau yang menampilkan secara visual tanpa sensor menjadi keluarga korban, bagaimana perasaannya?", berarti hal ini kembali ke pertanyaan tentang social sensitivity. Esensinya tentang publikasinya apakah dipertimbangkan aspek social sensitivity-nya?. Ketika hal tersebut memicu kemarahan publik maka artinya terdapat norma sosial yang berlaku telah dilanggar. Dengan demikian kasus ini menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa menampilkan korban kecelakaan atau pembunuhan secara visual tanpa sensor baik itu kasus skala besar atau kecil termasuk mengurangi social sensitivity.

Kemudian, terdapat juga kasus seseorang yang berkomentar berkebalikan dengan yang umumnya ditampilkan orang lain. Saat banyak orang memberi komentar belasungkawa, kesedihan, doa, dan sebagainya terhadap korban dan keluarga korban air asia, ternyata ada yang berkomentar bercanda dan menganggap remeh kejadian kecelakaan tersebut. Dapat ditebak, terjadilah kemarahan publik. Hal ini juga menunjukkan ada masalah social sensitivity. Berkomentar di ruang publik terbuka seperti media sosial memang tidak dilarang, namun yang menjadi masalah adalah apakah komentar tersebut sudah sesuai dengan suasana sosial yang terjadi?. Kecelakaan pesawat atau kecelakaan atau bencana-bencana lainnya merupakan suasana sosial psikologis duka (mourning), sehingga komentar atau perilaku yang gembira biasanya kurang tepat diberikan sehingga wajar terjadi kemarahan publik karena tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Kasus kecelakaan pesawat Air Asia memang menjadi salah satu momen (termasuk bencana-bencana yang lain) yang tepat untuk menakar kembali social sensitivity kita. Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi baik bencana natural, technology, dan social, yang idealnya dengan kondisi tersebut dapat membangun sosial sensitivity kita. Pertanyaannya, apakah kita harus menunggu kasus besar untuk menunjukkan social sensitivity? Banyak fakta membuktikan ketika kasus-kasus besar dan mellibatkan orang-orang di sekitar kita, orang-orang menjadi lebih mampu menunjukkan social sensitivity. Terutama ketika fase heroic bencana, publikasi media sangat intens, dan terdapat kedekatan dengan korban baik berupa kedekatan lokasi, fisik, sosial, ekonomi, gender, dan psikologis.

Cara sederhana menakar social sensitivity kita adalah, apakah kita mampu menjadi pendengar yang baik bagi orang lain?, apakah kita mampu hangat dalam berelasi dengan orang lain? Apakah kita memiliki kepedulian terhadap orang lain di sekitar kita? Apakah kita juga memiliki kepekaan terhadap kejadian-kejadian sosial di sekitar kita?. Mari kita menakar kembali social sensitivity kita dengan cara-cara sederhana tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat.