Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bencana dapat didefinisikan sebagai kejadian yang mengganggu kehidupan normal dan mengakibatkan penderitaan yang melampaui kapasitas manusia untuk menyesuaikan diri/mengatasinya (WHO, 2002). Dampak bencana alam tidak hanya dirasakan pada individu, keluarga, atau komunitas yang mengalami paparan bencana alam secara langsung namun juga yang tidak langsung karena melihat bencana dan dampaknya melalui media televisi atau koran dapat menyebabkan merasakan bencana meskipun tidak seberat yang mengalami langsung. Fokus psychological first aid utamanya diberikan kepada individu atau komunitas yang mengalami bencana alam dan berpotensi mengalami masalah kesehatan fisik ataupun mental. Psychological first aid menyasar pada kebutuhan dasar individu yang mengalami kondisi darurat atau trauma antara lain pengurangan bahaya yang memberikan ancaman, meningkatkan rasa kontrol, penyediaan serta pemberian informasi yang dibutuhkan, kebutuhan dasar terpenuhi seperti makanan, minuman, kesehatan, tempat berlindung, dan arah untuk masa depan setelah mengalami bencana.

Psychological first aid merupakan suatu pendekatan untuk membantu individu atau komunitas yang mengalami kondisi darurat (emergency), bencana, atau traumatik. Pendekatan tersebut meliputi prinsip dasar untuk membantu proses recovery secara alamiah. Meliputi membantu untuk merasa aman, nyaman, menghubungkan dengan orang-orang yang dapat membantu sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan, hangat dan membangkitkan harapan, memberikan bantuan fisik, emosi, dan dukungan sosial, dan perasaan mampu membantu diri sendiri. Terdapat juga konsep pendekatan manajemen resiko (risk management) yaitu mengenali, mengkaji, dan mengurangi kemungkinan atau dampak dari resiko dan memanfaatkan peluang sebesar-sebesarnya. Resiko dengan kerugian paling besar didahulukan untuk ditangani. Melalui psychological first aid diharapkan mengurangi terjadinya stres, menemukan kebutuhan utama, meningkatkan kemampuan menghadapi masalah (coping), dan mendorong terjadinya penyesuaian diri dengan kondisi pasca bencana.  
Psychological first aid didasari oleh pemikiran bahwa individu atau komunitas mengalami serangkaian reaksi awal ketika mengalami bencana yang meliputi fisik, emosi, psikologis, spiritual, dan perilaku. Reaksi-reaksi tersebut dapat berpengaruh pada kemampuan individu atau komunitas untuk menghadapi dampak dari bencana alam. Beberapa dampak bencana alam dapat berupa reaksi psikologis, fisiologis, perilaku, dan spiritual. Reaksi psikologis biasanya dalam bentuk mudah marah, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, penarikan diri atau isolasi, kekhawatiran tentang kejadian berulang dari bencana, merasa apatis atau mati rasa, merasa tidak berdaya, sulit berkontrasi, kesedihan, penolakan terhadap bencana yang terjadi, dan masalah dalam ingatan. Sebagai contoh sebuah kisah salah satu penduduk yang selamat pada kasus bencana alam gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Saat terjadi gempa, rumahnya yang dibangun dengan rancangan tahan gempa, ternyata roboh ketika terjadi gempa dan keluarganya sempat terperangkap dalam reruntuhan rumah. Reaksi psikologis yang muncul selain rasa takut dan terkejut, juga muncul reaksi menyalahkan pihak-pihak yang membangun rumahnya. Saat meminta tolong dengan harapan tetangganya membantu, namun tidak ada satupun yang membantu, sempat terpikirkan mengapa tetangganya tidak ada satupun yang membantu, apakah tidak ada satupun yang mendengar suaranya yang seharusnya cukup keras di suasana keheningan pagi. Reaksi psikologis makin meningkat ketika mengetahui semua tetangga di sekitarnya telah meninggal, dan hanya dirinya dan keluarganya yang selamat dalam peristiwa gempa dengan kekuatan 5,9 skala richter.

Reaksi fisiologis dan perilaku dalam bentuk kehilangan nafsu makan, sakit kepala, nyeri dada, diare, hiperaktif, mimpi buruk, kesulitan tidur, kelelahan, peningkatan perilaku konsumsi alkohol, dan obat-obatan. Reaksi spiritual dalam bentuk marah terhadap Tuhan dan mengurangi keyakinan terhadap kepercayaan yang dianut. Secara spiritual menyalahkan pada Tuhan karena Tuhan marah dalam bentuk bencana dan menyatakan bahwa agama sudah tidak memiliki makna karena doa-doa tidak terkabulkan dalam bukti terjadinya bencana. Kesedihan membuat individu menjadi tidak bahagia.
Intensitas, waktu, dan durasi reaksi fisiologis, perilaku, psikologis, dan spiritual dapat bervariasi antar individu yang mengalami bencana tergantung pada pengalaman hidup sebelumnya yang serupa, intensitas gangguan, kekuatan emosional individu, dukungan sosial yang dimiliki, dan lama waktu antara kejadian atau peristiwa. Melalui program Psychological first aid individu yang mengalami bencana alam juga belajar beberapa hal untuk resiliensi. Pertama individu mempelajari mengenai kondisi krisis seperti bencana alam yang telah disadari. Dengan adanya pembelajaran dari pengalaman tersebut diharapkan dapat memiliki ketrampilan yang lebih baik dalam menghadapi bencana yang serupa atau kondisi krisis lainnya. Kedua individu mempelajari adanya ketersediaan layanan dan dukungan yang dibutuhkan. Ketiga individu dapat mempelajari keselamatan, jaringan, dan kepedulian terhadap keamanan. Keempat individu menyadari kondisi fisik dan mental serta mempersiapkannya untuk ke depannya.

Daftar Pustaka

Hunanitarian Accountability Partnership. (2010). Standar HAP 2010 dalam akuntabilitas dan manajemen kualitas (Hepi Rahmawati, Pengalih Bahasa). Geneva : HAP International.
Mazayasyah, F. R. (2006). Musibah 27 Mei kabar duka dari Yogya. Yogyakarta : Gelombang Pasang.
Prama, G. (2007). Kesedihan, kebahagiaan, keheningan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Yuwanto, L., Adi, C. M. P., Pamudji, S. S., & Santoso, M. (2014). Issue kontemporer psikologi bencana. Sidoarjo : Dwiputra Pustaka Jaya.