Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
   
Sedikit demi sedikit kemudian menjadi bukit, demikian pepatah untuk menggambarkan orang yang rajin menabung yang di kemudian hari akan mendapatkan manfaat dari usaha kesabaran dan kehematannya. Pepatah tersebut juga berlaku bagi mahasiswa Fakultas Psikologi yang tergabung dalam Program Psychological First Aid (PFA) Bencana Alam Statistic Assistance Center (SAC) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Mereka memiliki komitmen mengumpulkan dana dari berbagai sumber untuk pelaksanaan program  Psychological First Aid. Mulai dari menulis artikel di beberapa media, membuat komik, membuat buku, mengadakan pelatihan bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuwan psikologi, mengumpulkan dana sosial dari masyarakat, dan mengumpulkan barang bekas yang memiliki nilai ekonomis untuk diolah, ataupun menjadi bahan baku yang bisa dijual.

Di medio bulan September 2014 hingga Desember 2014, banyak terjadi bencana alam di Indonesia. Belum lama mereda bencana alam Gunung Slamet dan Gunung Sinabung, kemudian disusul bencana alam tanah longsor di Banjarnegara, banjir di Bandung, longsor di Mojokerto, dan gunung Gamalama meletus. Setiap terjadi bencana alam, SAC Fakultas Psikologi mengadakan program PFA yang melibatkan mahasiswa dan alumni sebagai relawan. Dengan bencana alam yang beruntun, maka program PFA yang diadakan juga semakin banyak, sehingga membutuhkan dana yang semakin besar dan Program PFA SAC mulai mengalami hambatan.  Ditambah lagi beberapa daerah bencana lokasinya cukup jauh dengan kota Surabaya, dana transportasi dan akomodasi juga makin membengkak. Cara mengatasi untuk lokasi yang jauh, pada akhirnya disepakati program PFA hanya sampai pada tingkat sustain dengan cara memberikan sumbangan dana dan logistik serta menawarkan program psychological health melalui rekanan SAC di lokasi bencana. Rekanan SAC ini didapatkan melalui program-program PFA di beberapa lokasi bencana sebelumnya misalnya saat bencana tsunami Aceh 2004, gempa Bantul 2006, erupsi Gunung Merapi 2006, erupsi Gunung  Kelud 2007, erupsi Gunung Merapi 2010, erupsi Gunung Kelud 2014, erupsi Gunung Slamet 2014, dan erupsi Gunung Sinabung 2014.

Untuk mengatasi kekurangan dana, maka SAC tetap berupaya mengatasi dengan cara meningkatkan pelayanan pengabdian masyarakat sesuai dengan bidang ilmu statistik, menerbitkan buku-buku statistik, dan mulai menggali dana melalui penjualan barang bekas seperti kertas bekas, botol air mineral, dan kardus. Pengalian dana melalui barang bekas sebenarnya sudah dilakukan sejak program PFA erupsi Merapi 2010, namun waktu itu barang bekas yang dikumpulkan kemudian diolah dan dijadikan barang bernilai ekonomis sehingga layak dijual dengan harga yang tinggi. Kemudian program ini dikembangkan lebih lanjut sebagai bentuk occupational activity bagi lansia di sebuah panti di kota Jombang.
Namun seiring dengan makin tingginya beban mahasiswa asisten SAC dalam menjalani perkuliahan dan kegiatan lain maka tidak ada lagi waktu untuk melakukan pengolahan barang bekas menjadi barang yang lebih bernilai ekonomis. Solusinya kemudian mengumpulkan barang bekas sedikit-demi sedikit kemudian dijual. Mahasiswa asisten SAC dalam kesehariannya menjadi pemungut barang bekas, saat menemukan botol bekas air minum di kelas atau di sekitar kelas, kemudian dikumpulkan dan saat sudah banyak maka akan dijual. Beberapa kali mereka mendapatkan teguran dari cleaning service yang juga mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual, karena dianggap mengambil rejeki cleaning service. Mereka menjelaskan bahwa mereka hanya mengambil botol-botol di kelas saat pergantian kelas, karena setiap kali pergantian kelas, kelas tidak dibersihkan cleaning service dan yang paling terlihat mengotori ruangan adalah botol-botol bekas minuman mahasiswa yang berserakan tidak beraturan. Cleaning service hanya membersihkan kelas saat di jam perkuliahan terakhir dan biasanya di sore hari. Mahasiswa asisten SAC dalam pengumpulan botol bekas di kelas tidak dilakukan setiap hari, hanya 1 hari dalam satu minggu, karena memang tidak bertujuan mengambil rejeki cleaning service, terkadang botol-botol yang sudah dikumpulkan mahasiswa, telah dikepak secara rapi, dan diletakkan di luar ruang SAC, hilang entah ke mana dan hal ini juga terjadi pada barang-barang bekas yang telah dikumpulkan mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) yang membantu program PFA SAC.

Demi dana PFA, mahasiswa tidak malu menjadi pemungut, pengepul, dan penjual barang bekas. Memang hasil penjualannya tidak banyak, namun yang perlu diapresiasi adalah kemauan dan kerjasama antar mahasiswa, terlebih lagi apabila mengetahui mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya juga membantu dan menunjukkan kepedulian mereka. Prinsip sedikit demi sedikit memang terbukti, dana penjualan botol dan kertas bekas, bahkan dapat menjadi penyumbang dana sekitar 50% untuk bagian PFA sustain yaitu pembelian bahan makanan, minuman, dan obat-obatan serta program comfortable dan empowerment yang diperlukan bagi korban longsor di Balai Desa Karangkobar, tempat pengungsi korban longsor Dusun Jemblung Banjarnegara. Sebuah pembelajaran bagi kita semua dan terutama mahasiswa akan manfaat barang bekas, untuk ke depannya akan diperkuat jejaring barang bekas untuk dana PFA, sebagai penopang dana utama PFA SAC yang berasal dari jasa pengabdian masyarakat sesuai bidang ilmu psikologi, serta berupaya mengadakan program fundraising. Pembelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman selama ini adalah swadaya, jejaring, dan fundraising. Melalui artikel ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu program PFA korban tanah longsor Banjarnegara baik bantuan pemikiran, material, dan tenaga. Semoga ke depannya pengabdian masyarakat melalui PFA tetap dapat berjalan.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/155/Manfaat-Barang-Bekas-Bagi-Program-Psychological-First-Aid-Korban-Bencana-Longsor-Banjarnegara.html