Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Kota adalah tujuan mencari nafkah, demikian kata orang-orang yang berasal dari desa ketika melakukan urbanisasi. Sebaliknya desa adalah tempat mencari ketenangan demikian kata orang-orang kota yang mengalami kepenatan hidup di kota.Kota besar dapat digambarkan secara fisik sebagai berikut, bangunan-bangunan dengan jarak yang berdekatan, bangunan-bangunan tinggi sehingga membuat jarak pandang secara horizontal dan vertikal terbatas, sudah sangat sulit ditemui tanah lapang atau rumput liar yang tumbuh secara alami, banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lalang sehingga menimbulkan banyak polusi udara dan suara. Dengan kondisi tersebut menyebabkan sangat jarang bisa mendengarkan kicauan burung-burung liar, ataupun melihat secara dekat burung-burung beterbangan. Manusia membutuhkan harmonisasi tiga unsur yaitu manusia, tumbuhan, dan binatang yang biasanya identik dengan suasana pedesaan. Sangat wajar apabila masyarakat urban yang sudah disibukkan dengan urusan pekerjaan untuk nafkah hidup mengalami kepenatan baik secara fisik dan psikologis karena kurangnya asupan kealamian tumbuhan dan binatang.

Bandingkan dengan suasana di pedesaan. Tanah dan rumput yang masih alami ketika disentuh dengan kaki tanpa alas. Udara segar, langit terlihat jelas tanpa terhalang gedung-gedung tinggi, kejernihan air sungai, hamparan sawah atau kebun terbentang luas. Suara kicauan burung, binatang seperti jangkerik, ayam, dan unggas makin membuat suasana desa makin dirindukan masyarakat urban. Adanya kebutuhan masyarakat urban akan kerinduan suasana pedesaan yang lebih alami dibandingkan kota besar membuat beberapa pelaku usaha berkreasi dengan membuat hunian atau perumahan dengan konsep pedesaan di tengah lokasi perkotaan. Konsep rumah hunian tidak meninggalkan kekhasan hunian perkotaan, namun suasananya dihadirkan suasana pedesaan seperti adanya danau buatan dengan berbagai ikan hias yang ada di dalamnya, ruang hijau terbuka yang cukup luas. Namun, karena sifatnya artifisial tetap saja belum mampu menggantikan suasana pedesaan yang sebenarnya sehingga suasana perkotaan tetap terasa seperti adanya polusi udara dan suara meskipun tidak separah di hunian yang tidak berkonsep pedesaan.

Selain hunian berkonsep pedesaan, rumah makan juga dikonsep suasana pedesaan, misalnya mulai nama rumah makan yang berbau desa juga desain rumah makannya. Mulai desain rumah makan bertema pedesaan dari hanya tulisan-tulisan bertema desa yang terpampang di dinding rumah makan, lukisan pedesaan, hingga tatanan eksterior dan interior pedesaan. Masyarakat urban hanya sementara waktu saja dapat menikmati suasana pedesaan ketika sedang makan di rumah makan tersebut namun tetap saja belum mampu menggantikan suasana di pedesaan. Makan di ruang tertutup ataupun terbuka rumah makan bertemakan pedesaan belum mampu menggantikan suasana pedesaan seperti ketika makan di tengah atau pinggiran sawah, juga ketika menikmati makanan di tepian atau di atas empang (sungai kecil) karena suasana makro-nya tetap suasana perkotaan.

Masyarakat urban juga berusaha memenuhi kebutuhan akan suasana rural dalam kehidupan urbannya dengan menghadirkan suasana pedesaan ke rumah tinggalnya. Masyarakat urban menata eksterior rumah dan interior rumah layaknya di pedesaan. Ditambahkan dengan suara burung, katak, bebek, ayam secara elektronik dengan menggunakan sensor. Artinya burung, katak, bebek, ayam artifisial tersebut baru akan berbunyi apabila sensornya terstimulasi. Namun itu juga belum mampu menggantikan suasana pedesaan secara alami karena tetap saja suasana makro-nya adalah perkotaan.

Kerinduan masyarakat urban terhadap suasana rural bisa diatasi dengan benar-benar merasakan suasana pedesaan. Masyarakat urban pergi ke desa asli untuk menikmati suasana desa. Beragam cara yang ditempuh, mulai dari berinvestasi membangun vila atau rumah sehingga bisa digunakan saat ingin menikmati suasana desa, atau rekreasi di pedesaan. Artifisial pedesaan di kota tidak bisa menggantikan suasana pedesaan secara alamiah. Masyarakat urban membutuhkan suasana pedesaan untuk kehidupan fisik, sosial, dan psikologis yang lebih berkualitas. Bekerja di kota tinggal di desa menjadi alternatif beberapa masyarakat urban yang berjuang demi kualitas hidup yang lebih baik.