Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Pernahkah pembaca mendengar istilah Pscyhological First Aid bagi korban bencana alam atau yang lebih disingkat dengan PFA? Apabila pembaca menerjemahkan PFA dengan pertolongan pertama psikologi pada korban bencana alam, definisi tersebut sudah tepat. PFA merupakan bentuk penanganan psikologis yang dapat diberikan kepada korban bencana alam untuk membantu proses resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan individu dan komunitas untuk kembali ke kondisi yang lebih baik setelah mengalami kondisi yang tidak menyenangkan atau traumatis. PFA memiliki peran penting untuk tercapainya resiliensi. Mengacu pada konsep PFA, banyak pihak yang kemudian menilai bahwa yang berperan dalam PFA adalah orang-orang yang mempelajari bidang ilmu psikologi, ilmuwan psikologi, atau psikolog. PFA merupakan tanggungjawab siapapun yang mampu memberikan bukan hanya ilmuwan psikologi, psikolog, ataupun profesional. Mengapa demikian, karena pada prakteknya jumlah korban bencana alam dan profesional selalu tidak sebanding, korban bencana alam relatif lebih banyak dibanding profesional. Berdasarkan fenomena ini, non profesional juga dibutuhkan perannya dalam memberikan PFA, dengan persyaratan mampu memberikan PFA sesuai dengan kebutuhan korban bencana alam. Kemudian, perlu diketahui apa saja komponen yang terdapat dalam PFA? Tulisan berikut akan menggambarkan tentang komponen-komponen PFA yaitu Restore Safety, Facilitate Function, dan Empower Action.  

Komponen yang pertama adalah restore safety, yang meliputi safeguard dan sustain. Safeguard mengarah pada melindungi korban