Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Salah satu hasil utama dari Workshop Building Organizational Capacity Intervention After Disaster yang penulis ikuti pada bulan Oktober 2013 di Beijing China adalah pentingnya mengenali potensi bencana di sekitar kita untuk meminimalkan dampak bencana. Bencana baik sifatnya bencana fisik seperti bencana alam ataupun bencana sosial seperti perang, konflik berdasarkan perbedaan kelompok datangnya tidak bisa diprediksi. Namun kita harus siap menghadapi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Pemerintah selaku penanggungjawab utama kondisi bencana, telah berupaya semaksimal mungkin melakukan pemetaan tentang potensi bencana di daerah-daerah Indonesia. Tujuan utamanya adalah bukan untuk mencegah terjadinya bencana namun meminimalisasi dampak bencana yang kemungkinan terjadi. Hal serupa juga dilakukan negara-negara lain dalam menghadapi bencana. Namun pemetaan tersebut tidak cukup apabila masyarakat sendiri tidakmemiliki kepedulian terhadap potensi bencana yang dapat terjadi di sekitarnya.

Salah satu contoh bentuk kurangnya kepedulian untuk mengenali bencana di sekitar adalah kasus bencana Gunung Kelud yang baru terjadi di bulan Februari 2014. Lokasi Gunung Kelud memang sangat jauh dari Surabaya secara fisik, karena lokasinya di perbatasan antara Kediri dan Blitar. Apabila ditempuh menggunakan jalur darat dari Surabaya ke Kediri atau Blitar dengan berkendara mobil bisa membutuhkan waktu rata-rata sekitar 3-4 jam, demikian dengan menggunakan jalur kereta api dapat lebih cepat. Banyak pihak tidak memperkirakan apabila abu vulkanik erupsi Gunung Kelud sampai di Surabaya karena perhitungan jarak fisik antara Kediri dan Surabaya. Namun tidak memperkirakan perjalanan abu vulkanik utamanya melalui udara lewat hembusan angin. Bahkan masih banyak yang tidak percaya ketika abu vulkanik erupsi Gunung Kelud menyapa Surabaya meskipun sudah mengalaminya sendiri. Hal ini menunjukkan kurangnya pengenalan terhadap potensi bencana yang dapat terjadi. Banyak yang percaya setelah mengetahui informasi dari media bahwa abu vulkanik erupsi Gunung Kelud melanda beberapa provinsi di Indonesia, bukan lagi tingkat kota. Bahkan Jogjakarta yang letaknya lebih jauh dari Surabaya, masih mengalami hujan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud yang lebih parah. Kemudian sebagai contoh bentuk kurangnya pengenalan bencana yang dapat terjadi adalah saat Surabaya diguyur abu vulkanik erupsi Gunung Kelud, banyak yang tidak mengetahui kalau terjadi hujan abu. Dengan demikian perilaku saat mengalami hujan abu juga tidak berbeda dengan saat tidak terjadi hujan abu, berada di jalan ataupun berkendara tanpa menggunakan pelindung masker. Demikian juga pengendara motor, mobil, ataupun sepeda, tetap menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan kondisi jalan tertutup abu vulkanik meski tidak terlalu tebal, dampaknya beberapa terjadi selip dan terjadi kecelakaan. Pertanyaannya sudah siapkah kita semua apabila hujan abu terus berlangsung dan menumpuk di atap rumah? Tahukah apa yang seharusnya kita lakukan? Beberapa orang yang tahu, tentu akan segera membersihkan atap agar atap rumah tidak ambruk karena beban material abu vulkanik apalagi bila terkena air hujan. Sedangkan yang tidak tahu tentu akan membiarkan atap tersebut dan menunggu hujan agar bersih.

Tidak hanya masalah abu vulkanik yang harusnya kita kenali sebagai potensi bencana, potensi yang lain juga harus kita kenali misalnya angin kencang, banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Mari kita belajar pada para survivors yang berada di sekitar Gunung Kelud, Gunung Merapi, Gunung Semeru, dan yang lainnya, karena mereka telah belajar hidup di daerah rawan bencana dan berupaya untuk terus belajar mengenali potensi bencana di sekitar mereka. Sekarang coba direnungkan apakah kita sudah mengenali potensi bencana di daerah kita masing-masing? Dan tahukah apa yang harusnya kita lakukan saat bencana tersebut terjadi? Apabila jawabnya belum, segeralah mencari tahu, dan tetap waspada dengan potensi bencana di sekitar kita. Semoga Tuhan tetap memberikan keselamatan bagi kita semua. Aamiin.