Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

 

Pembaca tentu masih mengingat beberapa bencana yang terakhir ini terjadi di Indonesia. Mulai dari erupsi Gunung Rokatenda, erupsi Gunung Sinabung, dan erupsi Gunung Kelud. Pada saat awal terjadinya bencana, banyak media massa yang menyiarkan bencana tersebut, bahkan menjadi berita utama di setiap media massa cetak ataupun elektronik. Dampaknya banyak pihak baik secara perseorangan ataupun organisasi merasa tergerak untuk membantu baik dalam bentuk tenaga ataupun material. Fenomena yang terjadi pasca bencana biasanya agak berbeda dengan pada saat bencana. Saat media massa sudah tidak lagi menyiarkan secara intensif tentang bencana, maka mulai berkuranglah bantuan atau perhatian kepada para korban bencana. Terlebih apabila sudah diberitakan bahwa pengungsi sudah kembali ke daerah atau rumah masing-masing.

Namun, seringkali kita masih dapat melihat ataupun mendengar informasi bahwa pengumpulan bantuan kepada korban bencana alam terus dilakukan. Hal demikian memang wajar terjadi dan seharusnya terus dilakukan karena pasca bencana bukan berarti penanganan atau bantuan kepada korban bencana dihentikan. Pemberian bantuan kepada korban bencana alam dilakukan secara berkelanjutan bukan bermaksud membuat korban menjadi ketergantungan kepada pihak lain, namun bencana memiliki tahapan beserta karakteristiknya sehingga korban bencana tidak dapat dilepas begitu saja. Terdapat tahapan dalam bencana yaitu fase heroic, honeymoon, disillusionment, dan reconstruction.

Fase heroic merupakan fase awal terjadinya bencana, banyak korban bencana tinggal di pengungsian-pengungsian karena kehilangan tempat tinggal ataupun tempat tinggalnya termasuk daerah rawan bencana sehingga tidak dapat ditinggali dalam waktu tertentu. Pada fase ini berita terjadinya bencana tersebar ke mana-mana melalui pemberitaan sehingga banyak pihak yang tergerak memberikan bantuan. Pada fase ini pada pihak pemberi bantuan terasa lebih ringan untuk memberikan bantuan karena banyak pihak yang memberikan bantuan. Kebutuhan utama para korban bencana alam adalah adanya perasaan aman secara fisik dan tercukupinya kebutuhan fisiologis sehingga pemenuhan kebutuhan yang bersifat logistik tergolong mendesak untuk dipenuhi. Pada fase heroic banyak bantuan berupa makanan, pakaian, tenda tempat tinggal, ataupun kebutuhan fisik lain yang dapat disalurkan kepada korban. Namun pada fase ini seringkali terjadi penyaluran bantuan yang tidak merata, sehingga banyak korban yang belum tersentuh. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena informasi lokasi pengungsian yang tidak sama, terdapat lokasi pengungsian yang berada di pelosok daerah yang sulit dijangkau karena kerusakan yang parah sehingga bantuan tidak mampu masuk. Dampaknya banyak bantuan yang menumpuk di suatu lokasi saja yang mudah dijangkau. Penanganan psikologis pada korban bencana pada fase ini tidak boleh dilupakan selain penanganan kesehatan fisik. Kondisi gangguan psikologis dapat terjadi dimulai dari fase heroic, mungkin pembaca akan langsung menebak terjadi trauma pasca bencana. Tidak selalu berupa trauma sebagai bentuk gangguan psikologis, beberapa bukti penanganan psikologis pasca bencana menunjukkan bahwa kebosanan di tempat pengungsian berpotensi menimbulkan kondisi psikologis yang lebih parah misalnya depresi. Sehingga seringkali dilakukan kegiatan yang terkadang hanya berupa permainan terutama untuk anak-anak, ataupun hiburan seperti musik dan kegiatan yang menyenangkan. Tujuannya mencegah kebosanan dan terjadinya kondisi psikologis yang tidak kondusif.

Saat korban bencana mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya yang berasal dari bantuan ataupun perhatian berbagai pihak, korban merasakan beban hidupnya karena bencana mulai berkurang. Hal ini merupakan ciri dari fase honeymoon, berbagai pihak yang memberikan bantuan selau melakukan inventarisasi atau asesmen terhadap kebutuhan korban. Sehingga menumbuhkan harapan bahwa mereka akan dapat hidup seperti kondisi sebelum bencana. Beberapa pihak yang saat bencana kondisi hidupnya tidak menguntungkan bahkan merasakan bencana sebagai berkah karena dengan bencana yang dialami mereka dapat mulai menata hidup yang lebih baik. Banyak pihak yang memberikan perhatian dan fokus pada kondisi korban bencana.

Fase berikutnya adalah fasedisillusionment yang dicirikan dengan banyak masalah terjadi karena para korban mulai ditinggalkan dan dikurangi perhatiannya oleh berbagai pihak pemberi bantuan. Pada fase ini sudah mulai banyak pihak pemberi bantuan yang merasa telah cukup memberikan bantuan dan menghentikan bantuan, pihak-pihak yang semula membuka posko penanganan bencana juga banyak yang kembali karena mulai kekurangan tenaga relawan dan kembali fokus pada kegiatan sebelum bencana. Bagaimana dengan kondisi korban pada fase ini? Mereka belum sepenuhnya siap untuk ditinggalkan, mulai munculah perasaan berputus asa karena kondisinya mulai mengalami kesulitan. Terdapat keinginan bangkit namun sumberdaya yang dimiliki belum siap dan memuhi syarat. Pada fase ini harus segera diikuti dengan fase rekonstruksi yaitu upaya untuk kembali ke kondisi semula sebelum bencana atau paling tidak mengarah pada upaya ke kondisi yang lebih baik dibandingkan saat bencana.

Pada fase rekonstruksi, penanganan secara sistematis dan terstruktur perlu diupayakan. Pemetaan potensi sosial dan psikologis korban bencana dilakukan untuk pemberian berbagai pendampingan dalam bidang kerja ataupun bidang kehidupan yang lainnya. Pembangunan hunian baru bagi korban juga perlu memperhatikan karakteristik sistem sosial korban bencana. Jangan sampai asal dibangun namun pada akhirnya merusak sistem sosial yang selama ini telah tertata dengan baik. Rekonstruksi pendidikan juga perlu diperhatikan tidak hanya bangunan secara fisik namun proses motivasional anak-anak didik dan pendidik. Begitu pula untuk penanganan psikologis pada fase rekonstruksi tetap perlu dilakukan. Fase rekonstruksi ini tidak dapat selesai dalam waktu yang singkat, meskipun berita tentang bencana tersebut sudah tidak lagi terdengar namun fase rekonstruksi tetap berlangsung. Oleh karena itu bantuan dari berbagai pihak masih dibutuhkan terutama dalam mempercepat fase rekonstruksi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/116/Mengenal-Tahapan-Bencana.html