Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

            Seminggu yang lalu, penulis mencetak ulang buku tulisan penulis dari sebuah penerbit dengan tujuan membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan di kelas. Penulis tidak mengharuskan setiap mahasiswa membeli buku, namun menyarankan setiap kelompok terdapat satu buku untuk bahan pegangan merancang tugas simulasi dan praktikum di sebuah komunitas. Tujuan utama penulis mencetak ulang dan menjualnya kepada mahasiswa. Pertama membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan, karena sebagian besar buku pegangan berbahasa Inggris. Sehingga dengan adanya buku tulisan penulis yang berbahasa Indonesia dan bersumber dari penelitian-penelitian yang dilakukan penulis, mahasiswa mata kuliah tersebut dalam beberapa semester terakhir, dan buku-buku referensi yang baik dapat membantu mahasiswa. Terdapat perasaan puas pada diri penulis ketika mampu membantu mahasiswa melalui buku.

            Namun ada perasaan kecewa ketika penulis mengetahui bahwa terdapat mahasiswa yang menggandakan buku tersebut tanpa ijin kepada penulis ataupun kepada penerbit. Apakah hal ini karena mereka tidak tahu kalau perilaku menggandakan tanpa ijin merupakan perilaku pelanggaran hak cipta? Jawabannya mereka tahu. Terlebih program anti plagiarisme dan pelanggaran hak cipta sudah disosialisasikan, yang meliputi bentuk-bentuknya dan konsekuensi dari perilaku pelanggaran hak cipta. Pelaku pelanggaran hak cipta ini ternyata melakukannya dengan sengaja.

            Di halaman pertama buku telah terdapat peringatan keras bagi siapa yang menggandakan tanpa ijin kepada penulis ataupun penerbit akan mendapatkan konsekuensi hukum. Namun perilaku tersebut tetap dilakukan. Apakah mereka tidak takut perilakunya ketahuan? Mungkin mereka tidak peduli, mengganggap perilaku tersebut wajar, meskipun sebenarnya tidak wajar namun mungkin biasanya dimaklumi. Terbersit di pikiran penulis untuk menegur secara keras karena mereka tidak peduli dengan hasil karya orang lain, tapi masih terpikirkan bahwa mereka adalah mahasiswa penulis. Sempat terpikirkan juga bahwa mereka tidak peduli dengan penulis meskipun penulisnya adalah dosen mereka sendiri dan setiap minggu akan ditemui di kelas dengan mereka membawa buku fotocopy-an. Rasanya mereka tidak peduli dan tidak memikirkan tentang hal-hal seperti ini. Lantas apa yang harus penulis lakukan dengan kondisi ini? Entahlah, yang pasti dengan menuliskan kejadian ini, penulis bisa berbagi pengalaman dengan yang mungkin mengalami kejadian serupa ataupun belum.

            Penulis mendapatkan informasi, bahwa perilaku tersebut dilakukan tidak hanya satu kali saja, namun beberapa kali di setiap buku pegangan mata kuliah selalu digandakan sendiri daripada yang telah disediakan di tata usaha misalnya. Memang hasil menggandakan sendiri lebih murah harganya dibandingkan yang asli. Beberapa dari mereka memiliki alasan mengapa menggandakan sendiri, karena mereka tidak mampu membeli buku. Memang ada beberapa yang tidak mampu membeli buku, namun selalu ada solusi untuk kondisi ini. Menggandakan buku bukan jalan pintas untuk kepentingan pribadi namun merugikan orang lain. Lebih ironis, beberapa dari pelaku menyatakan tidak mampu membeli buku, namun mereka mampu untuk membeli pulsa telepon genggam dengan jumlah nominal yang lebih mahal dibandingkan harga buku penulis, telepon genggam bermerk, dan mampu membeli laptop dengan harga yang mahal. Penulis dicoba untuk memahami kondisi alasan ketidakmampuan membeli buku pelaku, namun pelaku tidak pernah memahami kondisi orang lain.

            Apakah pelaku pernah mau tahu bahwa penulisan buku itu juga bertujuan membantu orang-orang yang tidak mampu? Selama ini penulis selalu menyisihkan keuntungan penjualan buku untuk disumbangkan kepada lansia di Panti Werdha, Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat, dan Rekonstruksi Pendidikan di Merapi? Apakah pelaku juga peduli bahwa perilaku mereka juga dilakukan orang lain, yang berdampak sebuah penerbit internasional tidak lagi menerbitkan buku murah untuk edisi international student? Sehingga orang mampu-pun tidak mampu membeli buku aslinya karena ketika awalnya dijual ratusan ribu (masih terjangkau) sekarang menjadi jutaan rupiah?. Mari kita renungkan.