Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

“Buat apa Pak mengerjakan skripsi, toh nanti hanya digunakan sebagai tumpukan di Perpustakaan? Skripsi tidak berguna sebenarnya.” Pertanyaan dan pernyataan tersebut diajukan salah satu anak bimbing penulis angkatan 2005 pada beberapa tahun yang lalu. Penulis teringat kembali dengan pertanyaan dan pernyataan tersebut ketika beberapa hari yang lalu seorang mahasiswa menanyakan hal yang sama namun ditanyakan dengan konteks yang lebih luas, “Apakah skripsi penting bagi bangsa kita? Kalau penting, berapa banyak hasil skripsi yang dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa kita? kog masih lebih banyak yang menjadi penghias perpustakaan? Di Ubaya saja sebanyak itu belum lagi di universitas yang lain”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa mengelitik bagi penulis, terutama karena banyak mahasiswa bimbing penulis yang mengerjakan skripsi. Beberapa makna dapat ditangkap dari pertanyaan dan pernyataan mahasiswa tersebut. Sangat mungkin bahwa proses pengerjaan skripsi merupakan hal yang tidak menyenangkan, karena membutuhkan proses yang dirasakan beberapa mahasiswa sebagai proses yang sulit. Mengacu pada analisis ini maka proses pengerjaan skripsi dirasakan sebagai tugas yang tidak menyenangkan namun wajib dikerjakan (task aversiveness) dan skripsi memiliki nilai (value) yang rendah.

Skripsi merupakan karya tulis ilmiah, yang biasanya dimuati banyak konsep ataupun teori ilmiah. Bila dibandingkan dengan tugas akhir yang berisi karya praktis dan lebih jelas manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari maka tugas akhir yang praktis lebih terlihat memiliki valueatau tugas yang menyenangkan. Nah mengacu pada analisis ini, maka perlu dicari manfaat praktis dari skripsi atau karya ilmiah yang dikerjakan.

Agar skripsi tidak menjadi penghias perpustakaan ataupun hanya menjadi konsumsi masyarakat akademis maka skripsi harus dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dimulai dari kita sebagai pembimbing, menumbuhkan semangat atau minat mahasiswa dalam mengerjakan skripsi tidak hanya sekadar pemenuhan kewajiban. Pembimbing dapat menstimulasi mahasiswa mencari manfaat praktis dan bagaimana cara menerapkan hasil skripsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum menstimulasi mahasiswa, kita terlebih dahulu harus menstimulasi diri kita sendiri, membuat penelitian tidak hanya untuk mengejar kewajiban melakukan penelitian atau hobi meneliti, namun bagaimana kita memanfaatkan hasil penelitian untuk kehidupan sehari-hari. Jadi dengan semangat seperti ini, maka hasil penelitian tidak hanya sekadar dipublikasikan dalam bentuk jurnal, buku, ataupun presentasi di forum-forum ilmiah seperti konferensi. Dengan demikian semangat mahasiswa terkait dengan skripsi yang dikerjakan tidak hanya sekadar penghias perpustakaan diharapkan akan meningkat dan adanya rasa memiliki skripsi yang dikerjakan.

Banyak skripsi karya mahasiswa yang memiliki kualitas baik dan dimulai dari permasalahan yang muncul di kehidupan sehari-hari. Jadi sangat disayangkan kalau skripsi yang telah dikerjakan dengan usaha, akhirnya hanya menjadi penghias perpustakaan. Tujuan mulia pengerjaan skripsi adalah menemukan pemecahan masalah yang terjadi dalam kehidupan, sehingga seharusnya dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan. Semoga.