Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Pernahkah ketemu orang normal? Apakah menyenangkan? Begitulah sebuah tulisan yang terpampang di sebuah Pusat Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (cacat). Tulisan tersebut bukannya tanpa tujuan, tapi ditulis bagi penyandang disabilitas untuk mampu hidup harmonis dengan kondisi yang dialami.

Penyandang disabilitas biasanya mengalami berbagai keterbatasan dalam menjalankan fungsi kehidupan. Umumnya mereka melakukan komparasi sosial dengan orang lain yang tidak mengalami disabilitas. Komparasi sosial ini menyebabkan penyandang disabilitas merasa dirinya tidak beruntung, hidup tidak adil, membuat mereka terpuruk, menolak kondisi yang dialami. Setiap kali bertemu dengan orang normal, mereka selalu melakukan komparasi sosial sehingga muncul pertanyaan pernahkah ketemu orang normal? Jawabnya pernah. Apakah menyenangkan? Umumnya dari mereka menjawab tidak menyenangkan.

Itulah gambaran awal penyandang disabilitas yang masih berada pada fase denial(penolakan) dengan kondisi disabilitas yang dialami. Namun, hidup harus terus berjalan, berputus asa dan terpuruk karena komparasi sosial dengan orang yang tidak mengalami disabilitas tidak akan menyelesaikan permasalahan yang dialami. Para penyandang disabilitas harus mampu hidup mandiri, harus mampu menyelesaikan masalah-masalah hidup yang dialami, mengerjakan kegiatan hidup yang menjadi tanggungjawabnya, mampu mengurus diri sendiri. Tepatnya mereka harus mampu hidup harmonis dengan disabilitas yang dialami.

Kuncinya adalah kemauan dan usaha, mereka memiliki kemauan mengikuti rehabilitasi fisik, psikososial, dan ekonomi. Rehabilitasi fisik bertujuan untuk membuat bagian tubuh yang mengalami disabilitas tidak makin melemah karena fungsinya menopang fungsi bagian tubuh yang lain sehingga bagian tubuh yang lain dapat berfungsi menggantikan bagian tubuh yang mengalami disabiltas. Psikososial, mereka berusaha membenahi kondisi psikologis sehingga tidak secara terus menerus terpuruk, mereka berinteraksi dengan orang normal tanpa melakukan komparasi sosial secara berlebihan, belajar berinteraksi dengan orang normal secara mutualisme sehingga merasa adanya kondisi equity. Penyandang disabilitas belajar tidak tergantung kepada orang lain. Ekonomi, para penyandang disabilitas mengeksplorasi potensi-potensi diri yang dimiliki sehingga dapat dikembangkan dalam konteks kerja untuk penopang kehidupan ekonomi secara mandiri. Kemandirian secara fisik, sosial, dan ekonomi secara tidak langsung membuat fungsi mereka dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih harmonis.

Kemauan dan usaha memberdayakan diri sendiri menyebabkan penyandang disabilitas mampu menjawab pertanyaan di awal sebagai berikut. Pernahkah ketemu orang normal? Pernah. Apakah menyenangkan? Menyenangkan, karena kami mampu menunjukkan kelebihan kami, kemandirian secara fisik, sosial, dan finansial. Nah, sekarang pertanyaan berikut ditujukan kepada pembaca. Pernahkah ketemu orang penyandang disabilitas? Apakah menyenangkan?. Mari kita belajar hidup harmonis dari penyandang disabilitas, karena roda kehidupan selalu berputar. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.