Oleh : Listyo Yuwanto
       Fakultas Psikologi 
       Laboratorium Psikologi Umum
       Universitas Surabaya

Penggunaan telepon genggam yang berlebihan dapat berdampak pada kecanduan telepon genggam (mobile phone addict). Mobile phone addict didefinisikan sebagai perilaku keterikatan terhadap telepon genggam yang disertai dengan kurangnya kontrol dan memiliki dampak negatif bagi individu. Kata kecanduan (adiksi) biasanya digunakan dalam konteks klinis dan diperhalus dengan perilaku berlebihan (excessive). Konsep kecanduan dapat diterapkan pada perilaku secara luas termasuk kecanduan teknologi komunikasi informasi (ICT) Termasuk kecanduan teknologi adalah browsing Internet, game, menonton TV, dan penggunaan telepon genggam. Beberapa ahli menyatakan bahwa kecanduan telepon genggam dapat disamakan dengan perilaku kecanduan yang lain seperti kecanduan judi, minum, obat, ataupun internet. Perilaku dapat dikatakan kecanduan jika tidak mampu mengontrol keinginan menggunakan dan menyebabkan dampak negatif bagi individu. Telepon genggam memungkinkan individu berkomunikasi tanpa batasan waktu dan lokasi, namun menjadi masalah bila individu tidak bisa hidup secara normal tanpa menggunakan telepon genggam seperti keinginan membawa telepon genggam kemana saja, merasa tidak nyaman, dan terganggu bila tidak menggunakan telepon genggam.
 
Penulis melakukan penelitian dengan tujuan melakukan validasi gejala kecanduan telepon genggam hasil penelitian Leung (2007), mengembangkan skala kecanduan telepon genggam, penyebab, dan dampak kecanduan telepon genggam. Subjek penelitian 200 remaja berusia 17-18 tahun. Hasil penelitian didapatkan konfirmasi 4 gejala kecanduan telepon genggam antara lain inability to control craving (ketidakmampuan mengontrol keinginan menggunakan telepon genggam), anxiety and feeling lost (kecemasan dan merasa kehilangan bila tidak menggunakan telepon genggam), withdrawal and escape (menarik dan melarikan diri, artinya telepon genggam digunakan sebagai sarana untuk mengalihkan diri saat mengalami kesepian atau masalah), dan productivity loss (kehilangan produktivitas). Gejala utama kecanduan telepon genggam adalah ketidakmampuan mengontrol keinginan menggunakan telepon genggam.

Faktor penyebab kecanduan telepon genggam dikelompokkan menjadi 4, yaitu faktor internal, faktor situasional, faktor sosial, dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri atas faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu. Tingkat sensation seeking yang tinggi (individu yang memiliki tingkat sensation seeking yang tinggi cenderung lebih mudah mengalami kebosanan dalam aktivitas yang sifatnya rutin), self-esteem yang rendah, kepribadian ekstraversi yang tinggi, kontrol diri yang rendah, habit menggunakan telepon genggam yang tinggi, expectancy effect yang tinggi, dan kesenangan pribadi yang tinggi dapat menjadi prediksi kerentanan individu mengalami kecanduan telepon genggam. Faktor situasional terdiri atas faktor-faktor penyebab yang mengarah pada penggunaan telepon genggam sebagai sarana membuat individu merasa nyaman secara psikologis ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman. Tingkat yang tinggi dalam stres, kesedihan, kesepian, kecemasan, kejenuhan belajar, dan leisure boredom (tidak adanya kegiatan saat waktu luang) dapat menjadi penyebab kecanduan telepon genggam. Faktor sosial terdiri atas faktor penyebab kecanduan telepon genggam sebagai sarana berinteraksi dan menjaga kontak dengan orang lain. Faktor ini terdiri atas mandatory behavior dan connected presence yang tinggi. Mandatory behavior mengarah pada perilaku yang harus dilakukan untuk memuaskan kebutuhan berinteraksi yang distimulasi atau didorong dari orang lain. Connected presence lebih didasarkan pada perilaku berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari dalam diri. Faktor eksternal berasal dari luar diri individu, faktor ini terkait dengan tingginya paparan media tentang telepon genggam dan fasilitasnya.

Beberapa dampak dari kecanduan telepon genggam antara lain : (a) keuangan (finansial), penggunaan telepon genggam dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan penyedia jasa layanan telepon genggam (operator) tentunya diiringi dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memanfaatkan fasilitas yang digunakan, (b) psikologis, misalnya merasa tidak nyaman atau gelisah ketika tidak menggunakan atau tidak membawa telepon genggam, (c) fisik, misalnya gangguan atau pola tidur berubah, (d) relasi sosial, individu terisolasi dari orang lain atau berkurangnya kontak fisik secara langsung dengan orang lain, (e) akademis/pekerjaan, berkurangnya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang penting dengan kata lain berkurangnya produktivitas sehingga mengganggu akademis atau pekerjaan, (f) hukum, keinginan untuk menggunakan telepon genggam yang tidak terkontrol menyebabkan menggunakan telepon genggam saat mengemudi dan membahayakan bagi diri sendiri dan pengendara lain.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/10/Mobile-Phone-Addict.html